Siaran Televisi kurang mendidik

Siaran televisi sumber perusak moral negara, berdasarkan banyak hal yang disiarkan oleh media televisi tentang siaran publik yang di tayangkan di media elektroni tersebut sert konsumsi berita yang dterima oleh masyarakat yang sangat mudah adalah siran televisi hampir seluruh warga Indonesia memiliki televisi dirumah, dengan tujuan mencari Berita, hiburan, mengisi waktu luang mereka sembari bersenda gurau dengan keluarga televisipun di nyalakan.

Pemberitaan dan tayangan yang kurang begitu mendiidk membuat mereka semakin terobsesi untuk menajdikan tontonan tersebut dijadikan tuntunan hidup secara tak sadar mereka mengkonsumsi hal itu tanpa memfilter baik buruknya, perilaku anak muda yang seolah-olah diresmikan oleh penayangan televisi umpamanya dalam sebuah sinetron tentang percintaan disitu peran orang tua seakan-akan menyetuju hal tersebut tayangan lain seperti perkumpulan anak mud yang suka pada sesuatu yang hedon, dalam tontonhan itu konsumsi yang diambil seperti gaya bahasa yang seolah-olah gaul, alay, gaya bahasa yang secara kultur budaya kita tidak ada sama sekali dan bisa menjadikan pemuda lalai dalam belajar berbahsa yang santun dan Keindonesiaan, semua bercampur aduk dengan gaya dan laga sosok dan figur yang ditokohi oleh bintang sinetronnya.

Televisi sarana pencitaraan, dalam sebuah pesta demokrasi politik banyak orang-orang yang mendaddak terkenal dan mendadak sok sosialis padahal belum tentu di kebiasaann sehari-hariny aseperti itu, pemberitaan yang kurang imbang dilakukan oleh beberapa televisi yang bertujuan untuk mengangkat atau menggemboskan obyek dan lawan seperti halnya penayangan berita dan komentar para politikus yang berstatmen dan sebenarnya mereka dalam berstatmennya itu hingga Elite Politik bikin negara bobrok dengan pemberitaan dan informasi yang kurang bijak, hal ini juga pengaruh negatif bagi masyarakat luas dengan adanya penayang pencitraan dan sebagainya contoh kecil isu BBM kosong itu pengalihan isu pilpres. Masyarakat kita yang bernotabene kalangan dibawah rata-rata (orang-orang kecil) degan gampangnya mengklaim dan menerima tanpa memfilter sebenarnya layak atau tidak, hingga banyak mereka yang terhasud akan siaran tersebut.

Dewasa ini undang-undang pers digembor gemborkan sebagai landasan keterbukaan publik di masyarakat dan untuk masyarakat namun itu dillakukan dengan pola seenaknya, padahal ada dewan pers yang mengawasi sistem kontrol penyiaran tersebut dan serasa kurang maksimal dalam kontrolnya, adanya beberapa lembaga yang mengawasi tayangan-tanyangan televisi di negara ini sebenarnya sangat mendukung dengan sarana itu tetapi berlakuknya Undang-undang itu yang dianalogikan pada beberapa hal membuat tayangan dan pemberitaan seolah-olah tak ada masalah dan tanpa warning. Atau mungkin mereka karen aketerbatasan dana pengawasan sebagaimana dengan pekerjaannya. Tayanngan dan pemberitaan yang bakal dijadikan sumber informasi di masyarakat seharusnya lembaga pengawasan harus maksimal dalam melakukan kontrol itu, seperti halnya Lembaga Sensor menurut saya ada sedikit perkembangan sudah jarang tayangan-tayangan yang berbau pornografi.

Tentang politik dan Media Elektronik sekang sudah menyatu dan media menjadi bagian dari polotik karena secara perinship semua mengarah pada sosial dan  bersentuhan dengan mereka  (masyarakat) sebenarnya masyarakat menginginkan bahua pemimpin hari ini bekerjalah dan bukan hanya pencitraan.

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung di blog Rojay Creative.. Silahkan Tinggalkan Komentar..