Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Pada awal sejarah kerajaan Islam, Indonesia terbagi dua, yaitu Indonesia bagian Utara yang Iebih dikenal dengan sebutan Melayu dan Islam bagian Selatan (termasuk Sumatera dan Jawa) yang Hindu Budha. Di bagian Utara masyarakat Melayu, hidup sepenuhnya dari perdagangan Internasional yang lebih dinamis dalam kehidupannya, sedangkan di bagianSelatan masyarakat Sumatera Selatan dan Jawa, hidup dari pertanian dan sawah serta juga perdagangan, lebih banyak Kontemplasi.Dari kilasan sejarah kerajaan Islam Perlak, terlihat bahwa kerajaan sangat menikmati hidupnya yang panjang dan mengalami perkembangan yang sejahtera, terbukti kerajaan tersebut dapat bertahan dari tahun 840 sampai 1292, kurang lebih 450 tahun dan diperintah oleh 17 raja-raja Islam. Hal ini tidak terdapat dalam buku-buku sejarah Indonesia. 

Nama Perlak hanya disebut sepintas, sedangkan yang agak Iuas adalah kisah mengenai Samudra Pasai, Malaka dan Aceh. Hal ini disebabkan karena sedikitnya artefak sejarah. Perlak yang ditemukan sekarang. Padahal dapat dibayangkan betapa kayanya raja-raja Perlak akibat keuntungan perdagangan Internasional di Selat Malaka, sisa-sisa artefaknya hanya dapat dijumpai dalam kesusasteraannya yang diwariskan secara turun temurun. Inipun hanya sebagian kecilsaja.Pengaruh sastra Persia-Islam sangat nampak dalam bentuk-bentuk masnawi, rubayat dan Iain-Iain, pengaruh Persia dalam sastra sudah menetap di Indonesia seiak abad 10 M, misalnya keluarga Lor yang menetap di Gresik Jawa Timur, disana terdapat makam bintiMaemunah yang paling tua di Jawa, di suatu daerah yang sampai sekarang masih membawa nama keluarga itu, yakni Leran atau Lerang. 

Demikian juga keluarga Jawani menetap di Pasai. Keluarga inilah yang mengembangkan huruf Jawi di Melayu. Keluarga Syiah yangmenetap di Sumatera Timur dan kampung mereka dikenal dengan Siak dan kemudian berkembang menjadi Negeri Siak lndrapura. Keluarga AI Rumi yang menetap di Sumatera dan kelak membentuk negeri Lambri.Waktu Perlak berdiri di Jawa Tengah sedang dibangun Candi Borobudur yang megah. Raja-raja yang Hindu Budha lebih banyak meninggalkan artefak sejarah, sehingga kita lebih banyak mengetahui kebudayaan mereka dari pada di Melayu, namun warisan penting di Perlak adalah Agama Islam yang tertanam kuat di Melayu. 

Sedangkan Agama Hindu Budha di Jawa semakin terdesak oleh kekuatan Islam dari Utara, dan akhirnya hanya meninggalkan warisan tipis dalam masyarakat Pulau Jawa.Menurut Prof. DR. Wan Husein Aziz dari University Kebangsaan Malaysia, kehadiran orang-orang Arab dan Parsi di daerah Cina dan sekitar Selat Malaka (Sumatera dan sekitarnya), telah melakukan hubungan dagang. Di Cina mereka berniaga sutera, sedangkan di Sumatera, mereka memberi kapur barus dari Pelabuhan Barus di pantai barat Sumatera. Kapur barusini sangat penting untuk bahan ramuan murni, seperti murni Fir'aun yang sampai sekarang masih tersimpan utuh dalam Piramida di Mesir.Ketika penyebaran Islam, para pedagang dari Arab dan Parsi itu menyebarkan dakwah Islam ke daerah Cina dan sekitar Selat Malaka (Sumatera dan sekitarnya) sambil berdagang, seningga tidakIah mengherankan bila daerah Barus merupakan wilayah pertama di Indonesia yang menerima dakwah Islam sekitar abad ke-7 Masehi. Kemashuran Barus Iebih terkenal lagi ketika pada abad ke-16, Hamzah Fansuri yang berasal dari Barus dikenal sebagai ahli tasawuf Melayu.

Bangsa Arab telah menjalin hubungan dagang dengan Cina jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menyebabkan Islam, hal ini mengilhami sabdanya yang berbunyi "Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”. 

Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Sekitar tahun 631Masehi atau tahun 9 Hijriyah, para pedagang dari Hadramaut dan Yaman yang telah lama menjalin hubungan dagang dan pelayaran di Surnatera, sambil mereka berdagang juga menyebarkan dakwah Islam di daerah Sumatera dan sekitarnya. Dengan demikian kebudayaan Islam berkembang sejajar dengan kebudayaan Hindu Budha di Indonesia, perbedaannya adalah kebudayaan Islam berkembang di Iingkungan Melayu (Sumatera dan sekitarnya), sedangkan kebudayaan Hindu Budha berkembang di Pulau Jawa. 

Menurut berita tua dari Cina, pada tahun 650 M, di Sumatera telah berdiri kerajaan Ta Shi yang menjalin hubungan diplomatik dengan kekaisaran Cina, yang berIangsung sampai tahun 655 M. Kerajaan Ta Shi Ietaknya sekitar Iima hari pelayaran dari Chopo di seberang Selat Malaka. Orang-orang Cina menyebut kerajaan itu Ta Shi adalah berasal dari kata Tajik, yaitu sebutan orang Parsi kepada orang Arab yang telah memeluk Islam (kabilah Tajik), namun karena Iidah dan dialek merekayang tidak mampu mengucapkan Tajik, maka berubahlah kata itu menjadi Ta Shi. Jadi kerajaan Shi atau Tajik berarti kerajaan orang-orang Islam. Ini terjadi berkat dakwah para pedagang Hadramaut dan Yaman sekitar kurang Iebih 20 tahun ke belakang. Kerajaan Islam pertama di Indonesia ini, kemudian menjadi bagian dari kerajaan Perlak dan bernama Ta Jihan (menurut cata-tan Cina).

Semula Peureula atau Perlak adalah kerajaan Islam yang kedua setelah Ta Shi, yang terletak di Aceh bagian Timur. Kerajaan ini disebut demikian karena terkenal sebagai penghasil kayu peureula, sebagai bahan baku untuk membuat perahu, yang sangat baik mutunya. Semula kerajaan Perlak menganut agama Hindu Budha. Sekitar tahun 809 M. datanglah serombongan pedagang Timur Tengah yang berjumlah kurang Iebih 100 orang, terdiri dari orang-orang Arab, Parsi dan India. Mereka berdagang sambil berdakwah, menyebarkan Islam di daerah kerajaan Perlak Ini.

Menurut Prof. DR. Wan Husein Aziz, rombongan pedagang dari Parsi beraliran Syi'ah. Mereka sebagai pengikut Ibnu Mu'awiyah yang setelah konflik pada penengahan abad ke 8 (sekitar tahun 740 M), terpencar ke Iuar Persia, antara Iain keTimurJauh,terutama ke Cina dan Asia Tenggara. Rombongan yang berlabuh di Perlak dibawah pimpinan nakhoda Kahlifah.

Menurut Ali Hasmy, Bani KhaIifah berasal dari bagian tengah jazirah Arab, yang terkenal pemberani, gemar mengembara dan berbakat menjadi pemimpin. Rombongan Ini berhasil mengislamkan raja Perlak beserta rakyatnya dalam jangka waktu kurang dari setengah abad. Khalifah dan para anggotanya menikah dengan gadis-gadis Perlak. Salah satu anggotanya yang berasal dari suku Quraisy menikah dengan putera raja, yang melahirkan Sayid Abdul Azis, yang kelak menjadi raja Islam pertama di Perlak. Bandar Perlakpun diganti namanya menjadi Bandar KhaIifah. Salah satu peristiwa penting yang terjadi, adalah berlangsungnya perang saudara antara golongan Syi'ah dan Ahli Sunnah wal Jama'ah selama 4 tahun, yaitu pada masa  pemerintahan Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983 M). Perang saudara ini berakhir dengan suatu perdamaian, yaitu dengan membagi dua kerajaan. Perlak Pesisir untuk golongan Syi'ah dengan rajanya Sultan Alaiddin Syeh Maulana Mahmud Syah (976-983 M) dan Perlak Pedalaman untuk golongan Ahli Sunnah wal Jama'ah dengan rajanya Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan berdauIat(986-1023 M).

Peristiwa kedua adalah peperangan antara Sriwijaya yang Budhis dengan Perlak, tahun 975-986 M. Perang ini memperebutkan hegemoni kekuasaan dagang maritim di Asia Tenggara. Dalam perang Ini Sultan Perlak Pesisir, Syah Maulana Mahmud Syah gugur, maka kekuasaan Perlak sepenuhnya dikuasai oleh Perlak Pedalaman yang beraliran Ahli Sunnah waljama‘ah dibawah Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat. Ia memimpin rakyat melawan Sriwijaya. Perang ini berakhir ketika armada raja Jawa, Darma-wangsa, Memblokade laut Sriwijaya. 

Pada tahun 1292. Marco Polo berkunjung ke Perlak pada masa akhir pemerintahan Abdul Aziz Shaj Joan Berdaulat (1263-1292 M). Marco Polo bersaksi, bahwa Sumatera waktu itu terbagi dalam 8 kerajaan yang semuanya menyembah berhala, kecuali Perlak yang banyak dikunjungi oleh para pedagang Muslim dari Arab dan Persia. Inilah gambaran masa senja kerajaan Islam pertama yang memegang peranan penting sebagai pancaran sinar Islam di bumi Nusantara. Kerajaan Perlak berakhir ketika Sultan Malik AI Saleh dari Samudra Pasai menjadikan Perlak bagian dari kekuasaannya.

Rupanya kunjungan Marco Polo ini oleh ahli sejarah di Indonesia, dijadikan dasar permulaan masuknya Islam ke Indonesia, bersamaan dengan berdirinya kerajaan Islam Samudra Pasai pada akhir abad ke 13 M. Oleh karena itu sejarah awal masuknya Islam ke Indonesia perlu ditinjau kembali. 

Sejarah Islam Masuk di Indonesia

Sekian mengenai artikel tentang Sejarah Masuknya Islam di Indonesia, silahkan anda baca juga beberapa artikel lain mengenai seputar pengetahuan lainnya di blog rojay creative ini, Skandal Serta Kebusukan Yahudi, Sekilas mengenai Agama Shinto, Sekilas tentang Baitul Makdis.

Sumber: Awal masuknya Islam ke Indonesia, tulisan Jakob Sumarjo,
Media Pembinaan No. 12/ XXVIII Maret 2002

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung di blog Rojay Creative.. Silahkan Tinggalkan Komentar..