Beranda Bisnis Online Syair Imam Syafii Cerpen Blogger Cirebon Youtube

Memahami arti Kerangsupan cara Saint sederhana

Sederhana saja dalam artikel ini, penulis bermaksud membuat sebuah oretan curhatan di internet, mengenai hakikat dunia gaib yang sering kali orang mengatakan ada dunia dibalik dunia nyata, sederhananya adalah dunianya penghuni selain kita, dalam hal ini penulis mencoba menganalogikan sebuah dunia gaib dengan cara pemikiran yang sederahana sehingga dapat dipahami oleh kita sekalian, megenai dunia gaib itu sendiri, semoga dapat dipahami dengan mudah, adapula tujuan saya menulis artikel ini tak lain adalah menambah keimanan kita kepada Tuhan, dan saya tidak akan membawai artikel ini pada sebuah pemahaman agama secara formal maksudnya dengan menghadirkan dalil atau hadis secara baku akan tetapi akan saya ulas dengan sebuah konsep pemikiran dan logika berfikir serta kenyataan pada kejadian gaib terutama yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Dunia gaib adalah dunia yang memang ada dan benar adanya, banyak yang mengatakan seperti alam jin, atau alam lainnya, akan tetapi saya akan memulas dengan sebuah kejadian-kejadian goib yang sering kita lupakan bahua hal itu adalah sebuah yang gaib, sebelumnya saya pernah menulis artikel megenai Online itu alam gaib yang orang tak sadar, sekiranya kita mampu memilah hal itu dengan balutan pengalaman yang selama ini kita temui semasa hidup. Sebelum saya menulis lebih jauh saya akan hadirkan beberapa simple kenyataan dalam lingkungan sekitar, atau memahami gaib dengan logika kita.
Kerangsupan

Jika anda seorang pelajar yang pernah bersekolah dan belajar Fisika saya ingat kala itu duduk di bangku sekolah SMP yang sekarang SLTP, saya ingat pada guru saya mengenai Partikel, yakni sebuah unsur benda yang kecil, dan partikel dibagi 3 bagian, padat, renggang, dan gas, pada partikel padat contohnya batu, kayu, meja, dan lainnya mungkin kita sendiri (jasad kita) intinya sesuatu yang nampak oleh mata, dan partikel renggang (cair) seperti Air, embun dan seterusnya, dan kemudian partikel gas seperti udara, uap dan lainnya. Jika kita anda setuju anda saya berikan sebuah simpel pada 3 partikel tersebut, anggap saja partikel yang ke 3 yakni gas adalah hal yang gaib, dia tidak terlihat akan tetapi dia berasa, maaf salah satu contohnya anda buang angin, yang tidak terlihat akan tetapi anda merasakan bau. itu sederhanya.

Menganai Gas dan Gaib, merupakan sebuah senyawa atau zat yang tidak terlihat, banyak kita temui kata zat, atau senyawa, pemulis merangkum sama dengan zat adalah senyawa yang hidup. karena partikelnya renggang atau gas, mengenai dunia gaib itu sendiri kita analogikan pada sebuah jin, jin tidak terlihat nampak oleh kita akan tetapi mengenai jin benar adanya, dia adalah makhluk tuhan yang sama seperti kita, akan tetapi secara fisik mungkin berbeda, dengan pembuktian kenapa jin tidak nampak, anda boleh saja berfikir lebih awal memvisualisasikan Jin sepertihalnya udara.

Kenapa Orang Kerangsupan, Kesambet.?
Dalam hal ini, banyak kita temui orang kerangsupan dalam bahasa awam mengatakan kerangsupan setan, Nah,, bagaimanakah demikian terjadi, dari sebuah mitologi (Mitos) ini marilah kita sedikit berfikir bijak mengenai kerangsupan, dan kenapa orang bisa kerangsupan, jika kita analogikan adalah partikel gas dan partikel padat, sederhanya adalah anda masuk angin, hal ini akan berefek pada fisik anda, seperti sering buang angin atau badan merasa merinding karena kemasukan angin, anggap saja angin tersebut adalah syetan (jin),,, silahkan berfikir sejenak tentang hal ini...!!

Selanjutnya bagaimanakah Jin/setan bisa masuk ke diri kita?
Seperti yang sudah saya tulis diawal, jin/setan adalah partikel gas yang dapat masuk kepada partikel padat, dalam agama ada kalanya orang terkena bisikan setan, sehingga seseorang melakukan maksiat, ini juga bisa kita implementasikan pada sebuah makna saint yakni mengenai partikel, dan mohon pembaca untuk lebih bijak dalam berfikir, terutama membaca ini, kiranya jauhkan dulu paham mitos pada diri anda, syetan yang memiliki kepentingan menggoda manusia, karena sebuah misi tersebut syetan/Iblispun bermaksud menjerumuskan manusia kedalam kesesatan, telepas dari hal itu, syetan dapat melihat kita, dan kita tak dapat melihat syetan lantaran kita adalah makhluk kasar (partikel padat), begitu pula jin yang konon bisa menampar manusia lantaran anda buang air sembarangan baca artikel ini Buang Air Kencing sembarangan  atau bergaul dengan manusia. Ini tidak aneh sepertihalnya pada setan, akan tetapi jika jin nampak pada manusia itu memerlukan sebuah ilmu tersendiri, seperti halnya manusia yang ingin melihat jin mereka memiliki skil tersendiri, baca artikel ini Materi menjadi Zat (materi : partikel padat dan zat : partikel gas).

Jika anda masih bertanya kerangsupan, atau orang terkena santet, atau kiriman teluh, dan lain sebagainya, baca juga ini Spam adalah prilaku santet, hal itu sering anda dengar di lingkungan kita, akan tetapi kiranya anda sedikitnya memahami dengan cara saint, kenapa terjadi demikia, sedikit saya tambahkan kenapa ada kesambet..? mungkin anda mengganggu tempat para gaib terebut sehingga mereka marah, karena zat gaib (jin) mereka juga memiliki sebuah nafsu emosi, begitu juga kita, nah mengenai jin bisa masuk ke kita sudah saya ulas pada paragrap diatas, sekarang pertanyaannya kenapa kita masih membawa diri kita dalam pemikiran mitos yang sebenarnya hal itu bisa kita pahami dengan cara logika. Sekian oretan ini semoga bermanfaat. silahkan tinggalkan Komentar dan kritik. di kolom komentar,.. Memahami arti Kerangsupan cara Saint sederhana

Antara Falsafah Pancasila dan Islam

Penulis akan mencoba mengemukakan suatu tinjauan mengenai "falsafah Pancasila" yang empunyai kaitan dengan Agama IsIam. Falsafah Pancasila. Falsafah atau filsafat berasal dari kata-kata bahasa Yunani "philosophia" yang tersusun dari dua kata "philein" - cinta dan "shopos" kebenaran, jadi artinya "cinta akan kebenaran". Karena cinta kebenaran maka seandainya ada seseorang yang sedang berfilsafat berarti ia sedang mencari kebenaran. Adapun jalan untuk menempuh kebenaran itu, menurut fiisafat ialah dengan berpikir secara logika (tata tertib), bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma Agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai dasar persoalan sehingga tidak ada/tidak perlu pertanyaan lagi. Melalui jalan demikian maka orang tersebut pada suatu ketika akan sampai, bahkan akan berternu dengan essensi kebenaran itu (kebenaran yang hakiki). 

Kita beralih pada pengertian Pancasila. Kata "pancasila" berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari kata majemuk "panca" - Lima dan "syila" - sikap, karakter, budi pekerti, budi luhur. Dengan demikian, maka "pancasila" berarti lima sila, lima sikap, lima pendirian bangsa Indonesia yang luhur. Kelima sila itu (Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adik dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) adalah merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang pengertiannya tak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Moh. Hatta, Ketua perumus Pancasila, bekas Wakil Presiden yang pertama, dalam bukunya "PancasiIa Jalan Lurus", bahwa "Angkatan sekarang dan kemudian hendaklah memaklumi benar-benar isi dan ujud PancasiIa, Iima dasar yang satu sama Iain dukung-mendukung.". Meniyinggung "pengamalan Pancasila". Dr. Moh. Hatta dalam bukunya itu tenyatakan sbb. : "Pancasila itu hendaklah diamalkan benar-benar dengan perbuatan, janganlah dipergunakan sebagai "lip service’ saja". Rupanya pendapat ini masih relevan dengan dambaan pemerintah dewasa ini sebagaimana yang telah dijadikan keputusan pada Sidang MPR No. II/ MPR/ 1978, yakni "Demi tujuan nasional serta cita-cita bangsa dalam menuju masyarakat adii makmur, seperti tercantum dalam UUD 1945, maka kita selaku bangsa Indonesia perlu menghayati dan mengamalkan Pancasila secara nyata untuk menjaga kelestarian dan keampuhannya".

Setelah kita ketahui secara sepintas "apa filsafat dan apa PancasiIa", maka jelaslah bahwa arti "falsafah Pancasila" menurut ungkapannya, ialah falsafah tentang Pancasila atau Pancasila yang ditemukan atas dasar filsafat. Sedangkan pengertian menurut istilah dapat diberi batasan sederhana sbb. : Pancasila yang dikaji atas dasar filsafat adalah merupakan ideologi dan cita-cita bangsa Indonesia dalam menuju ke negara (tujuan nasional dan cita-cita bangsa) yang adil makmur serta diridlai oleh Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi landasan konstitusional dan GBHN landasan oprasionalnya. 

Agama Islam. Pengertian "agama" menurut istilah para Ahli dalam memberikan batasannya berbeda-beda. Pada prinsipnya perbedaan-perbedaan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama "Agama Wahyu" dan kedua "Agama bukan Wahyu". Dari itu penulis sependapat dengan yang dimaksud Agama oleh para Ahli kelompok pertama, yakni Agama Wahyu (Agama yang diturunkan dengan jalan Wahyu, mempunyai dasar Kitab dari Tuhan). Hal ini perpegang dengan Wahyu Tuhan, AI-Qur’an surat Asy-Syuura ayat 13, yang maksudnya, bahwa Agama hanya diturunkan dengan perantraan WahyuNya. Karena itu penulis tidak sependapat dengan pengertian atau yang dimaksud agama oleh para Ahli kelompok keduaa di atas, dan atau oleh para Ahli Anthropologi, Sosiologi, Ethnografi, philosofi, di mana agama tidak perlu adanya kemutlakan Wahyu, tapi cukup dengan percaya dan sikap berhubungan dengan yang Maha Ghaib.

Perlu penulis tambahkan perihal Hadits Nabi Muhammad saw. yang berbunyi : 
AD-DIINU HUWAL-AQLU WA LAAA DIINA LIMAN LAA "AQLA LAHU, 
"Agama itu adalah akal dan tidak ada Agama (tidak sah beragama) bagi orang yang tidak berakal".
Agama berdasarkan Hadits tersebut, hanyalah bagi orang-orang yang berakal saja. Artinya, bagaimana kita akan dapat mengetahui ada Wahyu Tuhan yang berupa Kitab-Kitab (Taurat, Injil, Al-Qur’an dll.) kalau tidak ada akal pikiran ? Justeru karena itulah kita dapat menerima Agama, bisa mengetahui isi Kitab-KitabNya itu tidak lain disebabkan kita mempunyai akal pikiran yang sehat.
Kemudian, bagaimana atau sejauh mana jangkauan ilmu filsafat terhadap Agama ? Sudah dikatakan
di muka, bahwa orang yang menggunakan akal pikirannya dengan jalan berfilsafat, maka pada suatu ketika ia akan sampai bahkan akan bertemu dengan kebenaran yang hakiki. 

Walhasil "akal-pikiran" itu hanya merupakan suatu alat untuk mencari, mencapai, dan atau hanya untuk mengetahui kebenaran yang hakiki saja (Agama), akan tetapi tidaklah berperan sebagai produk Agama (Ad-Dien !). Kembali kepada Agama yang dimaksud oleh Wahyu Tuhan, Al-Qur’an surat Asy-Syuura ayat 13.Bunyi ayat tersebut berkonotasi pula bahwa Agama yang untuk mengatur umat manusia di dunia ini macamnya hanya satu. Hal ini Nabi Muhammad saw. pernah bersabda :
INNA MA‘SYARAL ANBIYAAI DI INUNA WAAHIDUN, 
Sesungguhnya kami golongan para Nabi itu, Agama kami adalah satu". (H.R. Bukhari-Muslim).

Agama yang manakah yang satu itu ? 
Berdasarkan Wahyu Tuhan juga, Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 19, berbunyi : 
INNAD-DIINA ‘INDAL-LAAHIL ISLAAM, 
"Sesungguhnya Agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam (semua Agama yang datangnya dengan jalan Wahyu Tuhan)". 
Bunyi Wahyu Tuhan ini berindikasi pula bahwa tanpa dasar Wahyu Tuhan (mempunyai Kitab-Nya) tidaklah termasuk Agama. Filsafat Pancasila dan Agama Islam. Hakekat kebenaran dari segala kebenaran hanyalah satu. Dengan jalan berfilsafat maka sampailah kepada kebenaran itu. Sedangkan
Agama adalah sudah merupakan kebenaran yang datangnya dari Tuhan Yang Maha benar dan Maha Esa adaNya. Soalnya di sini, sudahkah Pancasila itu sampai/mencapai kebenaran ? Tidak ayal lagi, bahwa Pancasila yang digali atau dirumuskan atas dasar filsafat adalah benar karena terutama di dalamnya terkandung kebenaran yang mutlak, pusat dari segala kebenaran, yaitu pada Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukankah ada mutlak itu harus, wajib tidak tergantung pada apa dan
siapa pun juga, merupakan "ada" yang harus ada dan tak pernah tidak ada, tidak mungkin lenyap dan harus terus menerus ada karena adanya dengan pasti ? Bukankah "ada mutlak" ini biasa disebut Tuhan; sedangkan Tuhan Yang Maha kuasa, tidak berserikat adalah "Maha Esa" adaNya.

Jelaslah sudah bahwa Pancasila adalah suatu kebenaran. Dan lagi kelima silanya itu sesuai dengan ajaran Agama (Islam). Sehubungan dengan ini Prof. Dr. Hamka selagi beliau masih hidup sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia pernah mengatakan, "Pancasila adalah benar karena tidak bertentangan dengan Agama Islam". "Dengan tidak bertentangan ini berarti umat Islam sudah "Pancasilals" karena umat Islam Indonesia secara konsekuen telah melaksanakan dan mengamalkan semua yang dimaksud dalam Pancasila. Karena itu akan lebih sempurnalah di samping dilaksanakan, Pancasila itu diucapkan oleh umat Islam. "Demikian isi pidato H. Alamsyah Ratu Prawiranegara sewaktu masih menjabat Menteri Agama, yang dibacakan oleh Drs. Ahmad Khotib pada upacara Penutupan Tarjih Muhammadiyah se Indonesia tanggal 15 Mei 1978 di Klaten Jawa Tengah.

Selain itu, penulis tuliskan lagi pendapat yang lain dari H. Alamsyah Ratu Prawlranegara sbb. : "Semua pihak harus yakin seyakin-yakinnya bahwa Pemerintah tak akan mengagamakan Pancasila dan tidak akan mempancasilakan Agama." Senada dengan pendapat ini Presiden Suharto pernah menegaskan, "Pemerintah tidak bermaksud dan sama sekali tidak akan menjadikan Pancasila sebagai Agama, karena memang Pancasila bukanlah Agama ....".

Barangkali perlu kita ketahui lagi pendapat H. Alamsyah Ratu Prawiranegara yang berikut ini : "Pancasila yang kini menjadi landasan ideologi negara, sebenarnya tercetus akibat adanya pengorbanan umat Islam. Sebab, ketika pihak luar Islam menolak tercantumnya kalimat menjalankan syareat Islam bagi para pemeluknya" dalam Pancasila yang dimuat 'Piagam Jakarta'. maka umat Islam bersedia menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sampai sekarang ini. Ketika itu kemerdekaan baru diproklamirkan dan umat Islam diwakili oleh Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo, dan Tengku Muhammad Hasan." Beda halnya dengan persepsi Menteri Agama H. Munawir Sadzali. MA. Dalam hal ini beliau nampaknya banyak menyoroti ke dalam tubuh umat Islam sendiri supaya jangan picik, tidak mempelajari Islam setengah-setengah, tapi harus mempelajarinya secara utuh. Sebab, dengan mempelajari Islam setengah-setengah atau hanya sebagian-sebagian saja, maka akan membuahkan penganut-penganut ekstrim dan akhirnya mereka akan mudah terombang-ambing atau diadudombakan.
Makna Pancasila

Sekian Artikel mengenai Antara Falsafah Pancasila dan Islam 
dikutip dari MP No.6-XI 1985, 
jangan lupa baca juga berbagai macam artikel kainnya dibawah ini :

Cirebon Nanti Mekar dengan sendirinya Jangan Hawatir......!!!

Malas sebenarnya corat coret yang kaya gini, akan tetapi sbelum saya tidur sedikit saya ingin menulis mengenai pemekaran cirebon atau isu pemekaran cirebon menjadi Provinsi, atau cirebon akan dimekar seperti halnya ciamis yang saat ini sudah dimekar menjadi dua yakni pangandaran. Nah. sekarang tentang cirebon, saya asli orang cirebon dan awam administratif atau aturan pemekaran kaya gimana, akan tetapi saya memiliki keyakinan bahwa lambat laun cirebon pasti mekar dan memisahkan diri dari jawa barat, ini pasti terjadi secara alamiah, dan sisi administratif tidak lagi saling kuat-kuatan, karena jika daerah sudah banyak penduduk, kompetensi sudah mapan, dan lain sebagainya, seperti halnya seorang anak yang apabila sudah dewasa maka dia akan mandiri, mungkin cirebon juga akan mandiri dan itu adalah alamiah.

Saya sangat kurang setia dengan berita pemekaran walaupun beberapa artikel blog ini ada sekilas baca-bacaan mengenai pemekaran, mungkin saya sedikit kurang cocok aja dan merasa memiliki moral melihat kondisi ketimpangan sosial dicirebon yang kian menjadi-jadi, seolah-olah terjadi pembiaran, mungkin ini hanya sebatas pemikiran saya saja, akan tetapi saya melihat banyak gejolak pada berita, baik dunia maya, elektronik, cetak dan sebagainya, terutama jika berbicara mengenai politik kabupaten cirebon atau kota cirebon, ini aneh sedulur...

Pemekaran Cirebon - Peta Cirebon - Jabar

10 Kalimat Grasak-Grusuk NGIRAB mengenai Kemandirian..

  1. Seorang anak yang berusia 10 tahun tidak mungkin dilepaskan oleh orang tuanya begitu saja lantaran dia belum mampu mandiri...!!
  2. Seorang Anak yang sudah saatnya mandiri mungkin saja belum bisa diperbolehkan mandiri lantaran orang tuanya masih memerlukan bantuannya (belum boleh nikah)
  3. Seorang anak sudah memisahkan diri (menikah) tapi masih merepotkan orang tuanya..
  4. Orang tua lebih bijak dari pada anaknya karena orang tua memiliki naluri yang kuat dari pada anaknya yang arogansi tinggi. 
  5. Seseorang ingin mandiri karena hasutan (Propokatif) dari teman, atau orang yang memiliki kepentingan, 
  6. Bisa saja ingin mandiri karena sudah merasa kaya, mampu kemudian menyerang dan bersaing, namun yang parah jika hal ini dikendarai oleh Nomor 5
  7. Orang tua dan anak meskipun mandiri tetaplah hubungan tidak pernah terpisahkan.
  8. Sebuah kemandirian itu penting, tetapi bukan Kepentingan atas nama kemandirian.
  9. Orang tua akan merelakan anaknya bahkan melepas anaknya untuk mandiri. jadi Cirebon Nanti Mekar dengan sendirinya Jangan Hawatir......!!!
  10. Semua orang ingin mandiri tapi kadang tidak mau berusaha, yang berusaha dia terkadang lalai dengan tujuan awalnya, apalagi kalau sudah jaya, kaya, seperti cerita Qorun,
Entahlah saya menulis apa kali ini, yang jelas 10 poin diatas adalah sebuah kiasan kalimat saja, dan entah apa bahasa yang lebih tepat, "Mandiri atau Berpisah" ini adalah sebuah ungkapan hati bisa juga curhatan internet saja, saya sendiri berharap khusunya untuk cirebon, mari kita wujudkan persatuan walaupun sudah berpisah dan sudah pada mandiri.. hahaa... Hahaha... bersatu untuk bersama-sama maju..!!! baca dibawah ini :

Antara kecerdasan dan prestasi | Pentingnya Mendidik Anak

INTELEGENCE QUOTIENT (IQ) seperti diketahui merupakan suatu istilah di dalam ilmu psikologi yang telah dipopulerkan sejak tahun 1960 an. IQ itu sendiri sebenamya merupakan perbandingan (ratio = quotient) antara umur mental (Mental Age MA) dan umur kronologis (Chronological Age = CA) anak. Misalnya si A yang lahir dalam bulan Januarl 1976 mempunyai unsur kronologis 8 tahun dalam bulan Januari 2000 mengikuti tes intelegensi dan berhasil menyelesaikan tugas hingga batas usia 10 tahun, (dikatakan ia mempunyai umur mental (MA) 10 tahun. Dari perbandingan antara umur mental dengan umur kronologisnya, diperoleh IQ 125. Bagaimana perhitungannya sehingga ia memperoleh nilai 125 adalah sebagai berikut. Rumusnya ialah MA dibagi CA, lalu dikalikan 100. hasilnya merupakan nilai IQ anak tersebut. Jadi jika rumus di atas diterapkan pada si A, perhitungannya 10 dibagi 8, lalu dikali 100, berarti 125.

Tetapi si B yang seusla dengan si A, ternyata mempunyai nilai IQ 75. Mengapa? Sebab si B hanya mampu menyelesaikan tugas pada tes intelegensi itu pada usia 6 tahun. Dengan demikian, perhitungannya ialah 6 dibagl 8 kali 100 berarti 75. Cara perhitungan IQ yang sederhana lni hanya baik diterapkan pada anak-anak, tetapi tidak pada orang dewasa yang pertumbuhan mentalnya telah "selesai". Justeru itu, untuk golongan dewasa atau menjelang dewasa, dlciptakan perhitungan lain.

Dalam hubungan ini, ada beberapa faktor yang bersifat dlturunkan pada dlrl manusia, termasuk kecerdasan otak. Tetapl kecerdasan Itu tidak akan berkembang tanpa adanya rangsangan. Dan harus ada beberapa faktor yang menunjang kecerdasan itu, sehingga berkembang dengan baik, dan menghasilkan prestasi gemilang, baik di sekolah, maupun di luarnya. Pendidikan termasuk salah satu faktor yang bersifat menunjang kecerdasannya. Dengan suatu tes mutakhir, dapat diketahui pada diri seorang anak, berapa persen faktor keturunan pada kecerdasannya dan berapa persen pula faktor penunjang (seperti pendidikan) akan dapat diketahui. Pertentangan tersebut dl dalam psikologi dikenal sebagai nature versus nature. 

Secara empirik, sering terjadi, anak yang disekolahkan di sekolah tinggi, sementara anak yang sekolah di sekolah favorit (yang dianggap top dan hebat), tidak apa-apa. Hal itu terjadi karena pada anak-anak tertentu, faktor kecerdasan bawaan lebih berpengaruh dari faktor lingkungan dan faktor penunjang, sementara pada anak lainnya, faktor lingkungan lebih berperan. Di Amerika Serikat, pernah dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui peran lingkungan/rangsangan terhadap kecerdasan anak. Anak yang belum boleh memperoleh rangsangan, dites dahulu IQ-nya. Kemudian diberikan rangsangan-rangsangan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Kemudian anak dites lagi. IQ anak ternyata meningkat, misalnya naik 15 point. 

Tetapi IQ tersebut ternyata kembali (menurun) seperti keadaan sebelumnya, (sebelum diberi rangsangan-rangsangan), setelah dites kembali 4-5 bulan kemudian. IQ dan prestasi merupakan dua hal yang saling berkaitan dan saling membutuhkan, untuk berhasil mencapai prestasi tinggi. Tetapi secara empirik, keberhasilan sering disebabkan oleh faktor lingkungan, motivasi dan rangsangan. Anak dengan IQ tinggi, sering tak menghasilkan apa-apa, jika la tidak memperoleh faktor-faktor yang menunjang, seperti rangsangan dan sebagainya.

Istilah intelegensi biasanya menyatakan kemampuan. Clarapede dan Stern, dua tokoh psikologi, mengartikan Intelegensi sebagai kemampuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam situasi baru. Mengikuti defenisi ini, anak dengan IQ lebih tinggi, lebih mampu mengatasi kesulitan-kesulitannya. Batasan lain tentang Intelegensi yang dikemukakan para ahli ialah sebagai kegiatan kognitif/lntellektual, kemampuan berfikir abstrak, mengerti simbol-simbol, bernalar, melihat hubungan-hubungan dan seterusnya. Sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa InteIegensia bukan saja kemampuan untuk memecahkan masala secara sosial. Dari berbagai batasan tersebut, secara umum, lntelegensi dapat dikatakan sebagai kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. 

Dua anak yang mempunyai nilai IQ sama, dapat mempunyai prestasi berbeda, jika faktor penunjang berbeda pula. Juga faktor kebiasaan orang tua mendidik anak, dapat mempengaruhi prestasi anak. MisaInya A yang mempunyai nilai IQ tinggi, oleh orang tuanya dibesarkan dengan sikap manja berlebihan. Akhirnya tumbuh menjadi anak yang cengeng, tidak mampu mengatasi kesulitan, mudah mengeluh jika menghadapi kesulitan sedikit saja. Ia merasa malas menghadapi yang sulit- sulit, karena sejak kecil. la merupakan anak yang tinggal terima bersih. Bangun tidur, ada yang merapikan kamar tidurnya. Akan ke sekolah, sarapan pagi telah tersedia, sepatu sekolah telah dibersihkan dan disemir oleh pembantu. Segala-galanya telah tersedia. Dengan demikian, A merasa malas menghadapi kesulitan. Ia malas menghadapi pelajaran yang sulit-sullt, meski nilai IQnya tinggi. Ia lebih suka membaca komik, sambil mendengarkan kaset atau menonton video. Faktor-faktor seperti kurangnya minat, kurangnya daya juang dan tiadanya motivasi, menyebabkan prestasi A berada dibawah kemampuan yang sebenarnya dipunyainya. Tetapi B yang juga mempunyai nilai iQ tinggi, mempunyai prestasi tinggi. Sebab orang tuanya dalam mendidiknya, benar-benar menerapkan pola pendidikan yang "sehat", yang menyebabkan B tumbuh menjadi anak yang energik, mempunyai semangat juang dan hasrat yang besar dalam mencapai prestasi tinggi. 

Kesimpulannya, prestasi dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda. Dengan demikian, kecerdasan yang tinggi tidak menjadi jaminan prestasi tinggi. Sebaliknya prestasi tinggi yang dicapai anak, belum tentu karena tingginya tingkat kecerdasannya. Namun faktor rangsangan dan kecerdasan saling menunjang dan saling membutuhkan dalam usaha mencapai prestasi tinggi. Demikian Artikel mengenai Antara kecerdasan dan prestasi | Pentingnya Mendidik Anak, jangan lupa baca juga artikel berikut :
Hubungan Antara IQ dan Prestasi Rojay Creative

Cara Mengatasi Frustasi | Galau | Langkah Pasti

Untuk menuju ke arah pembahasan, terlebih dahulu akan dikemukakan batasan pengertian frustasi (frustration) . Secara sederhana dapat diformulasikan sebagai berikut : FRUSTASI adalah merupakan keadaan psikis (jiwa) seseorang yang merasakan atau membayangkan adanya hambatan, rintangan atau pun kegagalan terhadap pemenuhan dorongan diri orang itu. Makin sering seseorang menemui hambatan, akan makin sering pula kemungkinannya untuk terkena frustasi. Dan semakin besar hambatan, bertumpang tindih, semakin berat pula tekanan yang dirasakan. Sampai-sampai ia menjadi peragu, goyah keyakinan dan pendiriannya, tidak mampu memilih ataupun mengambil keputusan.

Terlebih lagi apabila frustasi tadi yang datangnya dari luar (external frustration) akan berbenturan/berkumpul pada diri seseorang dengan frustasi yang berasak dari dalam orang itu sendiri (internal frustrastion), misalnya karena ia cacat tubuh, daya intelgensinya tumpul, dan kelemahan-kelemahan lain yang ada dalam diri individu,  maka orang tersebut akan mengalami frustasi yang lebih kompleks (conflict frustration). Dapat dikatakan setiap orang akan/pernah mengalami frustasi. 
Frustasi ini merupakan gejala kejiwaan yang dapat menyelinap kepada siapa saja,  baik orang tua, orang muda, anak-anak, si miskin si kaya, orang berpangkat atau rakyat gembel, kaum cerdikcendekia ataupun yang tidak berpendidikan. Pendek kata tak ada seseorangpun yang hidup dalam kekebalan, tak mempan oleh prustasi.

Hanya saja setiap orang dalam menghadapi frustasi tadi, berbeda-beda. Artinya bagi yang sehat mental atau baik konseptualisasi pribadinya, maka frustasi itu kurang berarti terhadap kegoncangan psikisnya. Dengan sendirinya peristiwa itu hanya singgah sebentar ataupun berlalu tanpa menimbulkan kelukaan di hati. Dan sikap yang demikian ini (sehat mental) akan mengusir hadirnya kekecewaan, keputusasaan, kemengkalan, kegemasan ataupun kecemasan yang akan bersarang dalam sanubarinya. Kalaulah orang ini terkena jua kekecewaan atau ketidak seimbangan psikisnya, maka hal tersebut hanyalah buat sementara waktu dan akan segera kembali keseimbangan dirinya seperti sedia kala. 

Namun sebaliknya, jika orang itu dalam menghadapi frustasi tanpa langkah-langkah positif, tidak sehat mental, dengan sendirinyar ia akan mengalami kegoncangan psikisnya. Kegoncangan ini akan memantul pada sikap, perasaan, pikiran, kelakuan dan kesehatan orang itu. Gejalanya, bagi yang tidak sehat mental, menurut Dr. Zakiyah Darajat akan tampak pada kelambanan bertindak, lesu, malas, tidak bersemangat, kurang inisiatif, iri hati, rendah diri, gampang tersinggung, sering salah paham dan mudah terpengaruh oleh kritik-kritik orang. Sehingga mudah meninggalkan rencana-rencana baik hanya karena kritikan orang lain yang belum tentu ikhlas dan jujur. Alhasil kemampuannya untuk menimbang masak-masak dan melanjutkan rencana yang baik akan hilang dengan mudah. Atau kadang-kadang hal remeh pun, yang oleh orang lain tidak dirasakan, akan tetapi bagi dia sudah sangat berat. Akibatnya akan menimbulkan kegelisahan, muramdurja-gundahgulana, tidak bisa tidur, hilang nafsu makan dan sebagainya. Kalau sudah keadaannya demikian, maka terjerembablah ia ke lembah ketakutan yang bukan pada tempatnya, atau dalam istilah ilmu Kesehatan Mental disebut anxiety dan phobia.
FRUSTASI GALAU PUSING

BEBERAPA TIPS MENGATASI FRUSTASI

Masa lampau. kini dan akan datang.
Masa larnpau adalah masa yang telah berlalu, dan tak kan dilalui lagi. Karena itu janganlah mau terbelenggu oleh frustasi yang pernah dialami pada masa lampau. Dan hendaklah peristiwa itu tidak dipikirkan berkepanjangan, diratapi, ditakutkan atau disesali secara terus-menerus. Dengan kekecewaan, keresahan, kecemasan dan semacamnya tidak akan menyelesaikan persoalan, bahkan hanya mengundang problema-problema baru yang tidak diinginkan atau menimbulkan bertambah dalamnya frustasi. Jadikan saja pengalaman-pengalaman pahit itu sebagai guru utama untuk hidup masa kini yang akan datang. Bukankah waktu yang perlu dihadapi demi suksesnya tujuan atau rencana-rencana baik (pemenuhan dorongan kebutuhan) adalah masa kini dan akan datang ? Lebih jauh lagi untuk kehidupan kelak di akhirat.

Penulis kira yang paling penting, bagaimana sebaiknya sekarang berpikir dan berbuat secara logis dan terpuji. Kemudian langkah-langkah apa yang perlu diambil agar waktu mendatang dapat memperoleh kesegaran dan kegairahan hidup. Di samping itu perlu diketahui, orang yang mendambakan kemajuan dan pembentuk pribadi yang sehat, hendaklah bisa menganalisa atau mengolah secara ratsional terhadap masalah-masalah yang menimbulkan frustasi, sehingga menimbulkan kebenaran dalam alam pikirannya. Sebab langkah ini (tentunya) akan banyak mendatangkan kemungkinan untuk mengembangkan potensi positif serta meraih perkembangan pribadi yang mantap (bonafide).

Mengetahui akan dirinya sendiri.
Jika seseorang yang sedang berusaha mengatasi frustasi telah dapat mengetahui akan dirinya sendiri (siapa sesungguhnya diri ini, dimana tempat berpijak, bekal serta kekuatan apa yang dipunyai .... ..), maka dapat dikatakan bahwa ia telah selangkah lebih maju dalam usaha mengenyahkan frustasi yang dideritanya. Fiiosuf Aristoteles menyatakan, ”Kenalilah dirimu !” Dengan mengenai, menyadari akan diri ini berarti ia telah dapat menimbang dan memperhitungkan antara daya kemampuan yang ada dengan besarnya dorongan kebutuhan yang diinginkannya. Setelah diketahui eksistensi akan dirinya sendiri dengan segala aplikasinya atas gegoncangan psikisnya itu, seterusnya haruslah pandai-pandai mengklasifikasikan mana yang disebabkan oleh keinginan yang masih dalam kemampuannya dan mana yang di luar kemampuan dirinya. Dari itu, berangkali ada baiknya kita ketahui hal berikut ini.

  • Dalam kemampuan Apabila yang dihadapi keinginan yang dalam jangkaunnnya, tidak melampoi daya kemampuan yang ada (tapi mengalami hambatan, rintangan ataupun kegagalan, yang padahal tidak mustahil seandainya bisa mencapai sukses), maka kalau masih ada kesempatan, sebaiknya ia jangan terburu-buru putus asa, harus berani mencoba dan mencoba lagi. Sikap seperti ini dengan sendirinya harus di topang oleh ketahanan kondisi psikis yang konstan, keteguhan hati serta keyakinan diri yang dipersiapkan selalu, ditimbulkan dan dipertahankan terus. Di samping itu aspek-aspek psikis, terutama pikiran, perasaan dan kemauan dapat bekerja sama secara harmonis, tidak kontradiktif antara aspek yang satu dengan yang lain. Lebih ianjut dengan adanya mencoba dan mencoba lagi, perlu dipersiapkan bagaimana cara atau methode macam apa yang dapat dilaksanakan. Di sinilah orang dituntut untuk selalu belajar, baik dari pengalaman sendiri maupun dari orang lain. Reaksi radi (mencoba dan mencoba lagi) dapat dilakukan misalnya pada situasi frustasi kesulitan atau kegagalan. studi, kesukaran mencari kawan hidup, keruwetan dalam memperoleh pekerjaan, kesukaran ekonomi atau di bidang usaha lain, dan sebagainya. Suatu pertanda bahwa orang itu ada prospek baik atau akan berhasil dalam menghadapi problema yang dihadapi, biasanya dalam dirinya akan muncul pernyataan, antara lain: "Tak apalah, sekarang aku gagal, karena untuk sukses. Yah, ada hambatan berarti ada jalan. Dan kegagalan ini adalah merupakan titik awal keberhasilan".

  • Di luar kemampuan. Kalau dorongan kebutuhan yang di luar kemampuannya, maka sebaiknya hal tersebut tinggalkan saja. Jangan memaksakan diri, karena hanya akan menyusahkan saja. Jadi, apabila orang itu masih mendambakan kemajuan, sayang pada dirinya, maka ambillah langkah-langkah yang positif dengan mengukur kemampuan sendiri. Untuk mendasar usaha ini, mula-mula harus menerima keadaan apa adanya. Demikian ini, tidak berarti ia harus pasrah dengan begitu saja atau berhenti tak bergerak dan sepi dari usaha (apalagi putus asa !), melainkan ia harus bijak mereaksinya, harus bisa mencari jalan keluarnya. Jalan keluar yang tepat menurut hemat penulis diantaranya dengan mencari dan mengisi penyaluran yang sehat, atau berganti haluan saja (sublimation).


Adapun mereaksi dengan mencari dan mengisi penyaluran yang sehai - bertujuan agar bagi yang mengalami kegoncangan psikisnya tidak lagi ada kesempatan untuk berpikir atau berhayal yang tiada
tepi, berperasaan atau bersikap negatif. Apabila seluruh energi disalurkan pada kegiatan-kegiatan positif, rencana-rencana baik dalam berbagai kesempatan, kiranya hal-hal yang negatif itu, tidak akan mampu lagi menyusup dan menyerang benteng pertahanan pribadi.

Sikap berganti haluan yang perlu diperhatikan, terutama selain mencari objek pengganti adalah, mengganti cara dalam mencapai tujuan. Misalnya dengan meningkatkan kemampuan diri, belajar lagi dan sebagainya  mungkin ia akan sampai pada tujuan, bahkan bisa-bisa saja hasilnya akan lebih menggembirakan, ketimbang dengan apa yang dicita-citakan sebelumnya. Setelah jelas masalahnya, bahwa dorongan kebutuhan yang dihadapi adalah lebih besar daripada kemampuan yanq ada, dan hal itu sudah beberapa kali dicoba untuk meraihnya ternyata hasilnya nihil, lalu apakah masih enggan atau was-was untuk berganti haluan ? Ataukah mungkin jika berganti haluan masih dihantui oleh bayangan takut lantaran teringat derita yang pernah mencekam ? Kalau demikian halnya, penulis teringat ungkapan yang pernah dinyatakan dalam "drama" Shakerpeare : Our fears do make us traitors : ”Rasa takut kita membuat kita menjadi hianat.” Betapa tidak menjadi penghianat seseorang yang selalu membayangkan takut nyeri membersihkan boroknya untuk diobati. Kalau borok ini tidak segera diberantas dengan jalan pengobatan, maka akan meluaslah ia ke seluruh tubuhnya.

Begitu pula frustasi, kalau tidak cepat-cepat diatasi secara dini dengan jalan yang idimaksudkan tadi, dengan sendirinya penyakit itu akan bisa menjalar kemana-mana, dan bahkan akan bisa bersemayam dalam relung hatinya - buat selama-lamanya. Demikian Artikel mengenai cara mengatasi Frustasi   | Galau | Langkah Pasti, jangan lupa baca juga ini Resep Untuk Membangun Percaya Diri - Kurang PeDe - Ini Obatnya..

Cara Merekam Lagu Sendiri agar Hasil Maksimal

Nah Sobat rojay creative, kali ini saya ingin menulis mengenai Music yakni bagaimana cara Merekam Lagu Sendiri agar Hasil Maksimal, ini adalah sebuah artikel yang gampang-gampang susah saya tulis, namun mohon maaf bagi para pemula dalam menjalankan software recorder atau software merekam lagu atau music ini sangat sulit dipahami, maka itu saya akan menulis dengan cara sederhana saja agar lebih bersifat umum saja, karena jika menulis tentang pengalaman saya mengenai cara saya membuat rekaman lagu mungkin sangat bertele-tele persoalannya adalah saya sendiri dalam membus music dengan menggunakan software music digital adalah otodidak, akan tetapi sedikit saya tulis dan sederahananya bagaimana agar merekam lagu karya anda sendiri seperti profesional setidaknya sebagai berikut.


  • Jalankan Aplikasi Nuendo, Guitar Rig, EZDrummer versi berapa saja, terserah anda jika memiliki software/aplikasi yang lain juga silahkan..!!
  • Usahakan Bermain Musik dengan menggukan alat musik yang baik, atau merk ternama, contohnya guitar, Mic Recorder karena akan berpengaruh dengan hasil rekaman anda,
  • Jalankan Komputer anda untuk membuat recorder tersebut, usahakan komputer berspek tinggi, jika melakukan recorder lebih utama jangan menjalankan aplikasi lainnya, sebab bisa jadi noice datang dari aplikasi yang sedang berjalan.
  • Cari Tempat atau suasana yang mendukung secara full, agar berkonsentrasi penuh.
  • Jika mengisi suara Vocal  usahakan berlatih agar suaranya merdu, begitu juga bermain alat musik.
  • Dalam proses rekaman saya sarankan untuk merekam suara ritme dulu. 
  • Gunakan Filter Suara khusunya untuk alat pengisi suara (mic)
  • Sebelum melakukan remakan baiknya anda persiapkan dulu lagu populer milik band yang profeisonal. Hal ini bukan berarti meniru akan tetapi menyelaraskan pendengaran telinga kita.
  • Jika hasil rekaman sudah jadi, coba anda bandingkan dengan lagu band yang tadi, apakah telinga anda tidak deklok mendengarnya, contonya anda mendengar lagu milik Padi setelah selesai anda putar hasil rekaman anda setidaknya telinga anda akrab tidak setelah memutar lagu padi kemudian music rekaman anda.
  • Eh.. Lupa yang ini adalah hal penting, yakni sound system, gunakan sound yang mengeluarkan suara bersih.
  • Gunakan streo output untuk finishnya.
Demikian kirany mengenai merekam musik untuk lagu ciptaan anda sendiri, bayangkan jika anda mampu membuatnya secara profesional orang yang mendengarpun akan terasa nyaman. Mohon maaf berbeda jika anda setelah mendengar lagu papan atas kemudian anda putar music lagu indie, itu sangat terasa perbedaan anda, usahakan untuk detail dalam pengolahan remakan tersebut, hal ini sebenarnya sangat mudah, karena saya yakin para bakat seni khusunya musik memiliki insting musik yang kuat setidaknya itu adalah modal yang paling besar untuk membuat recorder music anda. terima kasih. Baca juga beberapa artikel dibawah ini,

PERS Zaman Rasulullah SAW | Jurnalis Islami

"Pers" dapat kita artikan perkabaran, perberitaan, penerbitan persurat kabaran, dan lain-lainnya, seperti yang kita saksikan dalam sejarah dan perkembangannya dewasa ini. Pengertian "Pers" dewasa ini bermacam-macam di banyak negara ada yang mengartikan "penerbitan/pencetakan dan pendistribuslan berita/lnformasi", dan lain-lainnya. "Pers" dalam arti sempit serta dalam cara, bentuk, atau distribusi sederhananya dapat kita katakan telah ada dalam Islam di masa Rasulullah s.a.w. Kita katakan masih "sederhana" karena belum dikenal penerbitan/pencetakan pers seperti sekarang ini, belum dikenal distribusi berlta/informasi, wartawan yang berprofesi khusus kewartawanan, dan bentuk jaringan berita, Informasi dan komunikasi seperti dewasa ini yang demikian maju dan berkembang.

Di masa Rasulullah yang menjadi "juru warta berita" umumnya para sahabat Rasulullah atau orang-orang yang hidup di masa itu. Warta berita lebih banyak di distribusikan/disampaikan dari mulut ke mulut karena sedikit yang pandai membaca dan menulis, tetapi kuat dalam hapalan dan ingatan. Distribusi berita/informasi masih terbatas ruang lingkupnya dan sedikit yang disampaikan melalui tulisan. Demikian pula jaringan komunikasi masih terbatas dianrara masyarakat sekitar Mekkah atau Madinah. Yang jelas berita/informasl berupa ucapan, peristiwa/kejadian dan perbuatan dari sumber manusia, masyarakat, alam dan lain-lainnya ada banyak atau sering, yang benar-benar merupakan berita, khabar .Rasulullah dengan ucapan, perbuatan, perilaku beliau merupakan sumber berita paling utama, demikian pula yang bersumber dari para sahabat dan orang-orang yang hidup di masa itu. Peristiwa yang timbul, seperti turunnya wahyu pertama, berita kenabian/kerasulan Muhammad, Isra' Mi'raj, pengembangan Islam dan hambatan-hambatannya, hijrah Rasulullah, pembangunan masjid, perjanjian damai, perang, dan lain-lainnya, semua ltu merupakan berita yang sangat penting di masa itu.

Rasulullah merupakan "manusia sumber berita" yang tak akan habis, bahkan selalu menarik para sahabat dan orang-orang yang giat dan antusias untuk menyebarkan berita tentang kerasulan beliau, penyampaian risalah (misi) Islam, dan hal-hal yang berkaitan dengan semua itu. Beliau bukan saja selalu dikerumuni oleh para sahabat terdekat di manapun beliau berada baik siang maupun malam, bahkan tiada beliau di tempat selalu dicari dan diketahui orang. Beliau sering mendapat kunjungan tamu-tamu terhotmat dari para pemuka kabilah, pemuka agama lain, termasuk tamu-tamu biasa untuk mendapatkan informasi penting tentang beliau dan tentang Islam, untuk disebarluaskan di tengah-tengah kabilah, kaum dan masyarakat mereka.

Banyak berita yang bersumber pada Rasulullah seperti banyak diriwayatkan/diberitakan oleh hadis-hadis yang sahih. Orang-orang yang dekat dengan beliau merupakan peliput berita langsung dari Rasulullah, untuk disampaikan kepada yang tidak hadir, disebar luaskan dari mulut kemulut atau ditulis bagi yang pandai menulis, dan dijadikan beritatentang kebenaran kerasulan dan Islam. Bukan saja Rasulullah sebagai sumber berita utama, tetapi yang bersumber dari para sahabat dan masyarakat selalu disampaikan kepada beliau. Umumnya arus berita/informasi disampaikan dan didistribusikan secara lisan. Penyampaian berita. Penyampaian berita/informasi di masa Rasulullah demikian cepat tersebar luas, apalagi yang datang dari Rasulullah. Selain sebagai kebenaran dan berita paling utama, juga karena harus disampaikan dan disebarluaskan, yang membuat besarnya antusias dan semangat para sahabat. Sampai-sampai wahyu yang menyangkut pribadi dan kehormatan Rasulullah, tetap harus disampaikan secara meluas dan terbuka, diabadikan dalam tulisan dalam AI-Qur’an. Contohnya wahyu yang berlatar belakang diri pribadi Rasulullah yang "hampir putus asa", demikian pula heboh tentang pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsy (janda Zaid bin Haritsah), yang dianggap melanggar adat masyarakat Arab, tetapi wahyu memerintahkan Rasulullah untuk mengawini janda anak angkat beliau itu. "Sampaikan dan beritakan ini ! Tulislah oleh siapa yang mau menulisnya, kabarkan kepada siapa yang tidak hadir, dan hapalkan bagi yang kuat hapalannya!", demikian Rasulullah tentang wahyu yang sangat mengenal pribadi, harga diri dan kehormatan beliau, tetapi beliau lebih takut kepada Allah bila menyembunyikan wahyu tersebut. "Bila engkau berani menyembunyikan wahyu, maka Aku akan memisahkan jantung/nyawamu dari gembung/tubuhmu", demikian ancaman Allah kepada Rasulullah.

Penyampaian berita/informasi atau "keterangan pers" di masa Rasulullah tidak saja disampaikan sendiri oleh beliau, tetapi sering melalui istri beliau (Aisyah), atau diberikan oleh para sahabat/pembantu beliau. Dalam Perang Badar Rasulullah memfungsikan juru pencari berita/informasi tentang keadaan/kekuatan musuh. Dalam Perang Uhud Rasulullah banyak mendapat informasi penting tentang sikap dan tipudaya kaum munafikin maupun musuh (Quraisy). Demikian pula dalam Perang Khaibar beliau sangat prihatin dan waspada dengan sikap orang-orang Yahudi pembawa/penyebar berita palsu dengan maksud mengobarkan pemberontakan, sehingga turun wahyu yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah (berita itu) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu akan menyesal atas perbuatan itu". (Q.S. Al-Hujurat : 6).  

Ayat yang dipandang sebagai "ayat pers dalam lslam" itu mengandung tuntutan etika (kode etik) jurnalistik, terutama perlunya . "chek and rechek", cara pemberitaan yang sebaiknya, sumber berita, dan lain-lainnya. Rasulullah sangat hati-hati ditengah-tengah simpang-siur berita/informasi, lebih-lebih yang dibawa oleh orang fasik yang bermaksud berbuat kedurhakaan, pengadudombaan dan pemberontakan melalui "perang berita", penyebaran isu dan berita-berita palsu untuk menteror mental kaum muslimin. Rasulullah juga memesankan keadaan yang tidak boleh diberitakan sebagai "rahasia militer/perjuangan", seperti ketika dalam Perang Uhud pasukan Quraisy meneriakkan "Muhammad telah berhasil dibunuh". Rasulullah memaklumi berita tersebut nyata menurunkan semangat juang kaum muslimin, tetapi beliau mencegah pemberitaan keadaan beliau yang sebenarnya, untuk menjaga agar tentara Quraisy tidak berbalik kembali meleburkan sama sekali kekuatan pasukan muslimin yang terdesak, sangat kepayahan dan banyak jatuh korban. 

Dalam peristiwa lain Rasulullah mendapat berita/informasi sekelompok orang yang mengeramatkan tempat tertentu. Beliau memberikan keterangan, perbuatan mereka termasuk syirik dan' merusak akidah. Datang lagi berita tentang Abu Darda yang terlalu luar biasa dalam berpuasa dan beribadat, sampal lupa hak-hak dirinya dan keluarganya. Rasulullah menyuruh Salman (saudara Abu Darda) untuk menyampaikan keterangan beliau tentang perbuatan Abu Darda yang tidak beliau benarkan itu. 

Demikian hal-hal dan peristiwa lain-lainnya selalu disampaikan kepada Rasulullah, dan beliau menyampaikan keterangan-keterangan untuk disampaikan. Penyampaian berita/informasi waktu itu tidak selalu sepihak, tetapi terjadi interaksi timbal-balik antara Rasulullah, masyarakat dan berbagai pihak lain. Dalam arus, sumber, jaringan dan produk pemberitaan/ informasi terasa dan terjamin kebebasan untuk mendapatkan sebanyak mungkin keterangan dari Rasulullah, para sahabat dan siapa saja. Orang bebas mengemukakan pendapat, menyampaikan berita/informasi, kritik, koreksi, dan kontrol sosial dengan lisan/tulisan, langsung/tak langsung, sepanjang bukan mengenai kebenaran wahyu Allah yang  mutlak itu. Rasulullah sangat arif bijaksana di tengah-tengah arus informasi. Beliau tidak menyukai berita palsu/bohong, berita yang mengandung penghinaan agama-agama, suku, golongan/bangsa, berita yang menyinggung kehormatan/reputasi para sahabat, pejuang lslam dan pribadi seseorang, termasuk yang telah meninggal, berita yang menyinggung kehormatan utusan-utusan; berita yang memancing huru-hara, fanatisme kesukuan utusan, menimbulkan kejahatan/kekerasan dan permusuhan, berita yang tidak sesuai dengan agama (lslam), moral, kepribadian dan kesusilaan, berita yang menyinggung hak asasi, menurunkan martabat kemanusiaan, dan lain-lainnya. 

Rasulullah sangat tidak menyukai berita, ucapan dan tulisan tokoh-tokoh munafikin yang berbahaya bagi lslam dan kepentingan umum (umat lslam), sehingga konon beliau terpaksa menggunakan tangan beliau yang mulia itu, untuk menebas batang leher pemuka munafikin karena berita, ucapan dan tulisannya yang berisi fitnah, pengadu dombaan, kemunafikan, pemutarbalikan fakta dan kebenaran tentang lslam dan umat Islam. Beliau lebih bersabar terhadap berita penghinaan terhadap pribadi beliau, sampai pada tindakan penghinaan, seperti ketika awal beliau menyebarkan Islam di Mekkah. Umar bin Khattab hampir hendak menghajar seseorang yang dianggap sangat kurang ajar terhadap Rasulullah di depan mata Umar sendiri, tetapi Rasulullah sambil tersenyum mencegah tindakan Umar : 
"Jangan Umar, biarlah ! Dia orang yang tidak mengerti, kok". Dalam penaklukan kota Mekkah, Jenderal Sa’ad memberitakan/mengumumkan, sejak hari itu untuk sekian hari akan dijadikan hari pembantaian besar-besaran bagi tokoh-tokoh Quraisy sebagai balasan/hukuman yang setimpal. Mendengar berita tersebut Rasulullah menyuruh Sa'ad agar mencabut pemyataannya itu, dan agar memberitakan kepada mereka bahwa hari-hari tersebut akan beliau jadikan hari-hari pengampunan massal dan besar-besaran. Keterangan beliau tersebut membuat lega mereka, dan membuat mereka berduyun-duyun masuk lslam. 

Rasulullah cepat tanggap dan cepat mengambil sikap/tindakan bila mendengar berita dari mana, dari siapa, dan tentang apapun juga. Mendengar berita Al-qamah sakit,beliau segera menjenguknya, mendengar seseorang meninggal beliau segera melayat dan mengiringkan kemakam, mendengar berita seseorang mendapat kebahagiaan beliau menyambut gembira; mendengar terjadi peristiwa itu dan ini beliau sangat antusias. Berita besar maupun kecil, berita tentang pribadi seseorang ataupun tentang lslam, berita aneh maupun biasa, berita sensasional maupun rasional, berita palsu maupun benar, berita yang sengaja diburu orang maupun yang terbuang sayang, semua itu mendapat perhatian Rasulullah. 

Hadist Rasulullah dalam pemberitaan. 

Selagi Rasulullah masih hidup, apa yang bersumber dari beliau selalu diliput dan diburu orang, sehingga arus dan jaringan pemberitaan/informasi dan komunikasi demikian hidup dan berkembang. Mereka yang tak dapat bertemu dengan Rasulullah cukup puas menerima berita dari sahabat terdekat. "Khabar" dari sahabat juga dicari dan diburu orang. Dalam sejarah hadits dan ilmu mustalah/dirayah hadis tergambar jelas bagaimana hadis dalam pemberitaan. Walaupun kehidupan dan perkembangan pemberitaan/infonmasi dan komunikasi belum seperti sekarang, tetapi kehidupan dan perkembangan informasi kala itu cukup hidup dan berkembang. Sebutan-sebutan "diberitakan kepadaku, kudengar dari si Anu dan seterusnya dari si Anu, dan sebagainya" merupakan pengetahuan tersendiri tentang pemberitaan dalam lslam. 

Kehidupan Rasulullah sebagai pribadi/manusia biasa, Rasul, panglima perang, diplomat ulung, pemimpin umat, dan sebagainya menjadi berita hangat. Demikian pula sewaktu beliau sakit hingga wafat banyak menjadi berita hangat dan besar. Demikian pula berita pengangkatan Abu bakar sebagail Khalifah, berita orang-orang yang menamakan diri sebagai "Nabi", berita pembangkangan membayar zakat, berita pemurtadan dan lain-lainnya sangat menjadi berlta waktu itu. 

Kalau kita hendak membenarkan bahwa hadist-hadistpun dimasa Rasulullah boleh dituliskan (dicatat), maka jelas merupakan berita-berlta (hadits-hadits) itu banyak dicari dan didapatkan orang. Paling banyak mendapatkannya adalah Abu Hurairah, menyusul Umar dan lain-lainnya. 

Di masa slbuk-sibuknya pengumpulan/pembukuan Al-Qur’an sangat besar peranan pemberitaan/informasi, untuk kelancaran tugas dan menjaga kemurnian wahyu dari kemungkinan tercampur hadis-hadis Rasulullah. Demikian pula di masa pengumpulan hadits-hadits Rasulullah, demikian hidup dan berkembangnya peranan pemberitaan/lnformasi, sehingga dituntut ketelitlan yang sangat tinggi, etika pemberitaan, persyaratan pencari, pemburu dan pengumpul hadits, seperti ketakwaan yang tinggi, kejujuran yang penuh, dapat dipercaya, sangat teliti, tajam daya hapal/daya ingatan, dan lain-lainnya.

Seorang pencari/pemburu berita tentang hadits setelah susah payah dan lama baru dapat menemukan seseorang yang katanya mendengar satu hadits adalah seorang dusun dan penggembala. Dia didapatkan tengah berusaha menangkap gembalaannya yang lepas karena liar, dengan bujukan segenggam rumput. Setelah binatang itu mendekat, bukan rumput itu yang diberlkan tetapi tali pengikat ke lehernya. Seketika pencari berita daripadanya itu pulang, tidak jadi mendapatkan berita dari penggembala dusun itu, karena diketahui sebagai pembohong dan penipudaya terhadap binatang gembalaannya itu. Kalau kepada binatang telah berbohong dan berbuat tipu-daya demikian, mungkin sekali terhadap orang lain? Besar dugaan berita yang datang dari penggembala dusun itu tidak benar/palsu, tidak informatif dan tidak akurat. 

Demikian gambaran kepribadan yang dituntut oleh lslam bagi seorang juru warta, sumber berita, atau juru riwayat hadits Rasulullah, dan demikian gambaran arus dan jaringan berita/lnformasi, yang dltuntut adanya semacam etika (kode etilk) atau kepribadian juru warta berita dan jaringan informasi dan komunikasi, apalagi yang menyangkut hadis yang perlu dikumpulkan, diseleksi dan dipisahkan yang benar dan yang palsu, yang kuat dan yang lemah, yang akurat dan yang bertentangan satu sama lain, dan sebagainya. 

Kiranya makin jelas bahwa kehidupan, peranan dan fungsi "pers" telah ada di masa Rasulullah dan para sahabat, yang sangat penting menjadi dasar dan pengetahuan tentang "pers dalam Islam", bahkan "pers dalam lslam” memberikan dasar dan motivasi terhadap dunia pers umumnya, yang menuntut adanya pers yang sehat, jujur, benar, bebas/demokratis, dan bertanggung jawab dunia dan akhirat, yakni yang menjalankan fungsi dan peranan sebaik-baiknya, yang berlandaskan pada etika pers jurnalistik berasaskan agama dan moral yang suci dan luhur, penuh limpahan petunjuk dan ridha Allah SWT. Semoga Wartawan atau jurnalistik kita sesuai dengan Sunnah seperti penulisan Hadist, semoga bermanfaat.. Baca juga ini Siaran Televisi kurang mendidik