Apa sih yang dimaksud HOAK apa pengaruhnya.

Mempelajari Ilmu komunikasi memang bukan hal yang mudah, apa lagi berkaitan dengan bahasa-bahasa yang sama sekali belum pernah didengar sebelumnya, yang lebih uniknya lagi bahasa tersebut datang dari sebuah informasi yang beredar voral didunia maya, seperti melalui media sosial atau jejaring sosial, mau tidak mau sebagai manusia modern perlu sedikitnya paham perkembangannya, terutama dalam konteks informasi sekaligus bahasa yang dijadikan komunikasi di dunia maya. 
Artikel ini mungkin agak basi dengan diberikan judul Apa sih yang dimaksud HOAK apa pengaruhnya, akan tetapi penulis memiliki maksud dan sudut pandang yang berbeda dari artikulasi makna HOAK tersebut secara umum diartikan dengan literlite arti dari sebuah kata HOAK tersebut, dan sedikit menyederhanakan sembari diberikan penjelasan yang bersifat efek atau pemngaruh dari hoak itu sendiri yang saat ini viral didunia maya.

Pengertian HOAX
HOAX berasal dari bahasa Inggris yakni Tipuan atau berita bohong, palsu yang sengaja dubuat dari berbagai macam kepentingan, mungkin tepatnya secara bahasa itulah yang dimaksud Hoak, akan tetapi saya lebih melirik dengan efek dan pengaruh dari hoak itu sendiri secara akibat dari hoak tersebut dan sedikit menelaah maksud Hoakers yang membuat hoax.

Hoak menurut saya bukan hanya sekedar berita bohong, tipuan, palsu akan tetapi Hoax merupakan bagian dari green desain mengubah framing masyarakat secara disengaja, sudah sangat jelas fenomena hoax saat ini menjadi sebuah kabar yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, bahkan para cendikiawan itu sendiri, sebelum saya menulis lebih lanjut mungkin akan lebih relefan saya berikan beberapa tips untuk menangi Hoax, bagaimana membedakan Hoax dan benar, anda bisa membacanya pada artikel selanjutnya.

Pengaruh HOAX.
Sudah barang tentu hoax sangat berpengaruh sekali dalam dunia maya, bahkan dapat mengubah mainset masyarakat dan berdampak horizontal, karena informasi bohong tersebut masyarakat mengeneralisasi (mengumumkan) informasi tersebut tanpa melalui proses yang sedemikian rupa dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat cenderung menelan mentah-mentah kabar darimana, siapa berita tersebut beredar itu fakta yang terjadi masakini dan tak terbendung.

Berbicara pengaruh Hoax saya akan memberikan beberapa hasil dari para Hoaxers sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, sebelumnya rumus yang mesti kita pakai adalah ada akibat pasti ada sebab, dan pengaruh adalah akibat (penderita) nah fenomena yang terjadi didunia maya diseluruh dunia, bukan hanya diindonesia hoax ternyata sudah menjadi panganan masyarakat tiap hari. saya mengambil sample dari polemik politik nasional yang menimbulkan efek horizontal pada masyarakat dan menjadi sebuah perbincangan dari beragam lapisan masyarakat dari kelas kuli sampai bos.

Diawal Tahun 2014 pemilihan Presiden RI yang bermuara pada sebuah elektabelitas kedua kandidat yakni Ir. H. Jokowidodo dan H. Prabowo Subianto, analisa saya hoax bersumber beredar dari mulai pilpres tersebut secara panas dan viral di media sosial, memang hoax sudah ada sejak jaman dahulu akan tetapi saya lebih menyederhanakan dengan politik nasional yang sedang booming sampai saat ini, ini adalah realita yang perlu dipahami. Hoax dibuat oleh para simptisan kedua belah pihak secara nasional, bahkan isu tersebut sengaja dibuat menjadi framing nasional, dengan tujuan politik. Ironisnya hal itu dilakukan oleh media raksasa dan dilanjutkan oleh media abal-abal serta didunia maya diperdebatkan, dari mulai jejaring sosial yang bersifat berita video, gambar meme, dan sebagainya. Hoax terus bergulir sampai pada puncak kemenangan pasangan Jokowidodo dan Jusuf Kalla, dan tidak selesai sampai disitu, bahkan pemerintah secara tidak sadar telah mengajarkan hoax pada masyarakat yakni adanya KMP dan KIH dan hoax-hoax terus beredar tanpa henti, seolah-oleh pertarungan politik tetap berlanjut.

Fenomena politik dan hoax saling bercengkraman dan tidak dapat dipisahkan sampai pada jelang pilkada serentak dan lebih hebohnya semua bermuara pada pilkada DKI jakarta, karena mungkin ini adalah kursi panas menuju RI 1 atau embriologi kekuasaan nasional. Beberapa contoh Hoax bisa anda baca pada artikel selanjutnya. Beberapa Cpntoh hoax dan pembagiannya.

Lebih Baik Membela partai ketimbang membela Rakyat

Berpolitik untuk mencari kekuasaan adalah sektor yang sangat tepat untuk membangun masyarakat, dengan berpolitik aktif maka terjadilah sebuah akeselerasi dan popularitas yang akan didapat seseorang hingga menjadi tokoh di kalangan masyarakat baik bersifat lokal, nasional, ataupun regional, banyak cara untuk ikut andil membangun masyarakat jika kita memang ingin memperhatikan masyarakat hingga mampu mensejahterakan penduduk, akan tetapi kebanyakan orang memilih untuk aktif berpolitik hingga menjadi anggota partai politik. Itu semua merupakan hal yang sangat menjamur di masyarakat kita, mereka yang aktifpun dari berbagai kalangan, mulai dari Aktivis, Budayawan, Akademisi, Bahkan preman sekalipun asalkan mereka berfikir memajukan masyarakat dan ikut bergabung pada kerangka sistem politik dengan aktif pada partai politik. baca juga ini Mungkinkah China akan Kuasai Indonesia Karena Hutang

Mencari Popularitas dari isu sosial.
Orang yang pandai dalam membaca situasi, mereka memilih jalan yang negatif yakni mencari popularitas (ingin dikenal) sebagai sosok yang peduli pada umum, seolah-olah menjadi pahlawan yang rela berkorban, namun ujung-ujungnya adalah mentokohkan diri dan ikut andil dalam parpol, Dengan memanfaatkan momen tersebut, seseorang yang gila pernghormatan akan menjelma sebagai orang yang suci dan berpihak kerakyat. Ini adalah pribadi seseorang yang kurang waras menurut saya, contohnya, ketika mereka menjadi seseorang yang benar-benar lurus kemudian mereka terlibat aktif dalam sebuah kasus dimasyarakat "kasus kesejahteraan rakyat, kasus kemiskinan" dan banyak lagi, dia memproklamirkan dna mengkampnyekan hal itu pada pemerintah, hingga terdengar dan sampai pada tingkat realisasi untuk pembenahan dari pemerintah, mungkin realisasi itu datang dari akses politik kepartaian atau memang melalui media, hingga popularitas didapatkan oleh seseorang tersebut hingga dianggap orang yang mampu membangun.
Dalam konteks pencitraan, memanglah butuh figur yang serba bisa dalam urusan sosial, dalam hal itni yakni bagaimana mencari popularitas dari isu sosial, sampai pada tingkat penilaian bahwa dia adalah sosok yang pandai, pemimpin, mampu, dan membela rakyat.

Awal rusaknya moral tokoh sosial.
Ditulis pada paragraf sebelum ini, mereka yang tulus dan benar-benar ikhlas membangun masyarakat, walaupun tak ada jabatan atau kepentingan apapun seseorang tersebut dalam sebuah pengwasan dari gerakannya dalam membela rakyatnya, dan pengawasan tersebut secara sengaja atau tidak disengaja, lantaran dia aktif di masyarakat dan ditokohkan menjadikan lama kelamaan si orang ini akan dikenal. Pada mulanya seseorang tersebut sering berhubungan dengan elit politik, hingga sebagian besar mereka dijadikan keanggotaan pada parpol tertentu.

Resiko hidup dilingkup sistem politik yang ada pada partai politik, memanglah sangat positif jika dilihat dari peraturan, etika, hukum, dan macam-macam lainya yang tertera pada undang-undang parpol itu sendiri, namun ketika masuk keranah kekuasaan hal itu akan berubah menjadi seseorang yang patuh terhadap partai dan Lebih Baik Membela partai ketimbang membela Rakyat, Kenapa itu demikian, semua kembali pada manusianya yang takut akan kekuasaannya dan kepentingannya tidak dapat terealisasi. bahkan karirnya akan terlibas habis karena melawan kebijakan partainya.

Pada dasarnya tak ada partai yang mengajarkan buruk (jelek) akan tetapi sentuhan politiklah yang membuat seseorang yang memiliki kebijakan dalam partai menjadi sensitif apabila melihat partai lain lebih kuat atau membangun sesuatu bukan dari partainya, atau tidak ada penilaian positif secara khusus pada partainya, dan lainnya, ini adalah sebuah gengsi individual namun melibatkan kerangka organisasi partai, inilah sebab banyak mereka pada penguasa yang memilih Lebih Baik Membela partai ketimbang membela Rakyat, dan tidak diragukan lagi bukan hanya pada kalangan pemerintah daerah seperti Bupati, Gubernur bahkan Presiden sekalipun, saya tidak mendiskriditsi salah satu partai atau penguasa, setidaknya pembaca sadar bahwa partai adalah wasilah, kemdaraan, yang menjadikan tokoh atau mentokohkan seseorang, bukan kebalikannya yakni partai yang menjadi penguasa dan mencampur adukkan gengsi dan imej pada kekuasaan.

Kebijakan yang semestinya dilakukan terkadang terkendala pada partai.
Ini adalah salah satu bentuk ketidak puasan, dan arogansian oraganisasi yang didalangi oknum kepentingan tokoh parpol, dimana banyak sekali kebijakan yang sebenarnya baik untuk masyarakat yang harus diambil oleh pemerintah yang menjadi anggota parpol, namun merasa terancam dengan parpol itu sendiri lantaran ada unsur gengsi akan menjadikan partai tersebut merasa kurang tepat, seharusnya pemerintah tidak menghiraukan hal itu, karena jabatan itu bukan dari partai akan tetapi dari masyarakat.
Hal ini mungkin sangat sering menjadi kendala kepala pemerintahan yang menjadikan dirinya bersikap kurang layak, atau mungkim karena dia membayar jasa kendaraan partai itu mahal dengan upeti besar. Atau dia merasa tak enak hati karena ditokohkan oleh partai.,,,

Masyarakat adalah lahan basah yang dijadikan mesin kekuasaan.
Ini yang lebih seru, karena dengan persoalan dimasyarakat membuat parpol semakin gencar untuk mencari aspek yang dapat diangkat dan tentunya dapat membuat reputasi tokoh parpol menjadi naik, hingga nama parpolpun menjadi naik, yang dimaksud lahanb basah sangat bermacam-macam, seumpama dalam konteks ketimpangan sosial, biasanya banyak yang mencoba masuk untuk menjadi pahlawan dan dalam gedung DPR tersebut seolah-olah masyarakat yang diangkat kasus sosialnya tersebut adalah klaim milik parpol terternt melalui sektor DPR, dan akan terasa ketika pada masa pemilu dimana klain daerah itu adalah kawasan salah satu parpol. Ini biasanya parpol memasang sebuah perangkap baik media maupun tokoh yang dijadikan sumber informasi bahkan delegasi. Ini juga alasan saya menulis Lebih Baik Membela partai ketimbang membela Rakyat,

Ketika datang masa-masa kampanye banyak bendera-bendera yang bertuliskan membela yang tertindas, akan tetapi pada ahirnya nanti merekalah asli penindas yang mengatasnamakan kepentingan yang ditindas. Saya sendiri memiliki kepekaan tersendiri dalam sebuah masalah sosial, namun saya kurang percaya pada partai dan kurang percaya pada pemerintah, lantaran banyak hal yang membuat saya semakin tidak nyaman dan risau akan ketenangan sebagai warga negara, yang semestinya perlu di proteksi dan diperhatikan dengan layak, akan tetapi kondisinya terbalik pemerintah lebih memihak partainya daripada kami di masyarakat mungkin dianggap tidak berpengaruh bahkan tidak menimbulkan efek positif bagi partainya, lebih khusus untuk dirinya sendiri.


Membarikan sumbangsi dengan nama partai atau nama seorang partaisme.
Ini maksudnya adalah seseorang akan lebih cakap dan garang pabila memberikan sebuah kontribusi bersifat sosial yang mesti di klaim atau diberi identitas, contohnya sangat banyak, kita bisa lihat beberapa kendaraan seperti ambulan yang bertuliskan nama partai, saya sendiri tidak mengerti tujuan apakah yang dilakukan, atau beberapa sektor bantuan untuk komunitas pemuda, yayasan, atau pendidikan dan saranan umum harus mengajukannya melalui dewan yang secara implisit adalah dari partai A partai B atau C, ini juga menjadi obrolan umum di kalangan aktivis masyarakat yang kerap kali gagal mengajukan permohonan dana karena melalui tidak melalui mekanisme kepartaian tertentu, mungkin uang APBN sudah dikuasai partai Ya.... Ohh sungguh seram mendegarnya. Hal ini sangat rawan korupsi karena mengadung unsur pemotongan dan pemangkasan anggaran. dan terlebih hal ini banyak para aktivis masyarakat seperti ketua yayasan, ketua pemuda yang menggadaikan idealismenya dengan mengikuti mekanisme agar permohonannya dikabulkan. baca ini Gaya Hidup Politikus | Perwatakan Negatif

Pemerintah aktif dengan acara kepartaian saat acara dibandingkan masyarakat yang mengundang dirinya.
Masyarakatlah yang membayar pemerintah, masyarakatlah yang dijadikan objek kemakmuran, masyarakat juga sebagai pekerjaan yang real, dibandingkan acara ceremonial yang berisikan sebuah rencana-rencana busuk yang menjatuhkan lawan partai, atau menjatuhkan sosok sesama partai, pada saat warga membutuhkan kehadiran sang penguasa daerah, entah bupati, gubernur atau presiden sekalipun mereka enggan untuk hadir apabila yang mengundang bukan orang sendiri (orang partai yang memiliki kebijakan penuh), berpengaruh, kondisi yang benar-benar screet "jika tidak hadir akan berimbas pada dirinya dianggap tidak peduli secara umum". Mereka akan menutup telinga dan mata seolah-olah itu dianggap tidak penting, dan mengatakan "Saya sibuk dan bukan hanya mengurus itu saja karena sayakan kepala daerah". Menurut saya kalau begitu kita sebagai masyarakat jangan bayar pajak, jangan ikut nyoblos, bila perlu demo besar-besaran untuk melengserkan. Itu semua merupakan sebuah kebiasan para dedemit oknum pemerintah.

Tulisan ini terbingkis untuk pemerintah yang bijak dan membuka kacamata pemerintah khusunya yang dari partai agar membuka mata, hati dan fikiran, kita semua sayang kalian, namun jangan jadikan diri kalian hina dihadapan Tuhan dan Kami, dan mulya dihadapan Partai Pengusung Anda, saya tidak peduli apapun partai, saya juga tidak perlu partai, jika sampai saat ini masih belum ada juga partai yang benar-benar mengerti kami, dan masih terpengaruh dengan dominasi kekuasaan yang setelah berkuasa kemudian salah bekerja, dan kewajiban. sekian artikel Lebih Baik Membela partai ketimbang membela Rakyat baca juga ini Pemerintah Belum Sensitif pada Rakyat

Mungkinkah China akan Kuasai Indonesia Karena Hutang

Sudah menjadi pemberitaan yang merobek telinga hingga merusak gendang telinga kita, ternyata Indonesia yang konon katanya Negeri yang kaya ini. ternyata kaya Hutang terutama pada China, ini adalah anehdot yang sangat menggelikan, kabarnya Indonesia memiliki Hutang sebesar 13,65 miliar dollar AS silahkan dikalikan sendiri sesuai dengan harga dollar saat ini.

Dewasa ini pemerintahan Jokowi melakukan banyak gebrakan pembangunan besar-besaran, hal itu dibuktikan di beberapa wilayah yang tengah dibangun mega Proyect yang saat ini sedang gencar-gencaranya, terutama pembangunan sarana transfortasi umum ditambah beberapa proyect sumberdaya energi. Jika dilihat dari kacamata itu berarti Indonesia sedang bangkit tentang pembangunan, akan tetapi pertanyaan yang membalikkan logika kita semua adalah "Uang dari manakah semua itu?" jawabnya sangat sederhana dan bisa juga rumit karena semua akan beralibi dengan politik.

Terlepas dari itu, mengenai beberapa pemberitaan dimedia-media yang saat ini gencar mengenai utang Negeri kita ini ke negara Asing terutama kepada China, ditambah isu-isu miring tentang gelagat politik yang kurang sehat yang melanda negeri ini, menimbulkan banyak sekali praduga dan kehawatiran bangsa, yakni "Apakah Negara ini akan digadaikan atau akan dijual". Selama ini masyarakat hanya berdiam dan melihat serta menonton pertunjukan politik gengsi kelas atas, yang dipertontonkan layaknya ketoprak humor atau lakon srimulat, dengan Isu-isu, ocehan miring, celoteh kotor, dan adu kekuatan antar kubu, sungguh ini sangat membingungkan, beberapa hal yang membuat saya menulis Mungkinkah China akan Kuasai Indonesia Karena Hutang adalah sebagai berikut :

Mungkinkah China akan Kuasai Indonesia Karena Hutang

Hutang Indonesia Ke China :
Saya membaca beberapa berita dari media cetak dan Online tentang hutang yang melunjak naik sampai 59% kechina, membuat saya semakin bingung, walaupun mungkin saja ada kaitannya dengan beberapa proyek seperti yang saya paparkan diatas. ini adalah salah satu gerbang bagi China masuk ke Indonesia. Belum lagi konon katanya mereka menanam saham di Indonesia tetapi mereka juga mengambil tenaga buruh dari negerinya, wow... masyarakat sama halnya dengan menonton. Jika memang demikian apakah yang akan dilakukan oleh pemerintah kita. Sedangkan perkara Hutang rakyat tidak tahu menau soal itu, 

Isu Politik bahwa "Jokowi Adalah China"
Kedua mengenai cerita ini, kabar yang lama beredar semasa kampanye Pilpres kemaren bahwa Jokowi adalah titipan China, ini sudah menjadi bulan-bulanan masyarakat, seperti beredarnya gambar meme lucu yang memperlihatkan Gambar Presiden kita dengan tautan kata-kata "China" hal ini juga mendorong keingin tahuan saya, mungkin bisa jadi demikian, karena saya secara pribadi menilai Pak Jokowi kurang begitu paham mengurus Negara, beliau diuntungkan Oleh Nasib saja (Maaf), Karena Ilmu Politik hubungan luar Negeri yang belum mapan, dan sama sekali masih amatiran, sehingga banyak sekali mereka yang merasa lebih paham, memanfaatkan Presiden untuk distir dikanan kirinya, termasuk rel yang menuju china.

Berbicara "Jokowi Adalah China" itu sudah menjadi kabar umum, ditambah rekannya yang sekarangh menjabat sebagi Gubernur DKI yakni pak Ahok, ini juga China, yang saya tahu bahwa Jokowi ahok itu sosok tokoh yang memang sudah dipersiapkan. Jakarta adalah Ibukota Negara kita yang menjadi simbol negara, apabila memang praduga bahwa ahok adalah pesanan China maka kita tinggal tunggu waktu saja.

China tumbuh dan berkembang Bukan hanya di Indonesia.
Alasan saya berikutnya adalah china atau orang-orang china, mereka tumbuh dan berkembang pesat di penjuru bumi ini, diluar negeri dan di berbagai Negara,  Komunitas China sangat kompak dan solid, dan mereka matang dalam berbisnis, dimana-mana ada china.

Banyak Produk China yang tidak manusiawi.
Banyangkan saja mengenai produk china yang menurut saya kurang manusiawi, mereka berbisnis dan berani bersaing di perdagangan global dengan cara yang sukses dan dengan market yang luar biasa, contoh kecinya adalah Gadget, Handphone, Smartphone, yang banyak kita temukan sampai ke plosok-plosok desa terpencil sekalipun, selain harganya murah produk cina juga menawarkan fitur-fitur yang disesuaikan dengan keinginan konsumen.

Belum lagi product lain, China tidak hanya bisa meniru akan tetapi memikirkan hal terkecil seumpama, peniti, sisir, gantungan kunci, dan banyak lagi semuanya berlabel Made in China, ini bukan lagi sebuah rahasia, bahkan pada mainan yang harganya Rp, 1.000 saja bertuliskan Made in China, hingga ada pepatah yang mengatakan bahwa China bukan Negara tetapi Gaya Hidup (maksudnya gaya hidup china dengan menggunakan produk china), ditambah kosmetik, perabotan rumah tangga, dan banyak lagi.

Banyak para cendikiawan yang mengatakan China akan menguasai Indonesia,
Nah yang ini mungkin menjadi patokan utama, karena mereka yang pandai berfikir dengan disiplin ilmu, tidak lagi diragukan analisanya, karena melalui beberapa analisis serta riset dan kajian yang sangat ilmiah, beberapa tokoh Nasional mengatakan China akan berkuasa di Negeri ini.  Seperti Yusril Izza Mahendra, yang terbit ramai diperbincangkan untuk lebih jelasnya silahkan baca "Prof. Yusril Melawan Negara China yang akan Menjajah NKRI, Kenapa Ahok Tidak Terima?", dan adajuga tokoh lain yang berkata demikian. salah satunya adalah Emha Ainun Najib beliau mengatakan JOKOWI Impor Pekerja CINA ke INDONESIA seperti ceramahnya di situs ini, silahkan baca Lihat Video.

Beberapa hal diatas apalah kurang cukup jika memang china kelak akan menguasai Negeri ini, saya sendiri menulis artikel ini buka karena benci kepada china, jika memang mereka ingin berteman dengan baik dan menjadi tamu yang baik maka hormatilah tuan rumah bukan menjadi tuan dirumah orang, itu saja. demikian artikel tentang Mungkinkah China akan Kuasai Indonesia Karena Hutang

Curhatan Untuk Pak Jokowi atas Celaan dan Hinaan

Mengenai pemberitaan miring pada seorang nomor satu di Indonesia memanglah wajar apabila hal itu merupakan sebuah kritik membangun, atau pemberitaan yang bersifat mengingatkan komponen pemerintahan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, akan tetapi jika menyinggung fisik "mencela" ini bukan hal yang wajar, bisa dikatakan sangat keterlaluan, terlepas dasar suka tidak suka atau setuju tidak setuju kita sudah tidak bisa menyangkal bahwa Ir. Jokowidodo adalah presiden RI, yang semestinya kita bantu, kita lindungi dan kita kawal bersama-sama dengan sekemampuan kita demi keutuhan bangsa Indonesia, saya sendiri awalnya kurang begitu respek mengenai soal pemerintahan periode ini, bayak alasan yang mendasar tentunya yang membuat saya kurang begitu suka pada pola pemerintah Era Jokowi-JK, namun bagaimanakah kita mensikapinya secara dewasa dan tidak terlalu terbawa rasa benci yang berlebihan.

Dewasa ini banyak pencelaan yang datang dari berbagai elemen masayarakat dari berbagai kalangan, seperti pada kalangan elit, hal ini bukan rahasia lagi, di media televisi misalnya, banyak debat kusir yang pada intinya meragukan kepemimpinan Jokowi-Jk, dan itu dikonsumsi publik secara menyeluruh dan nasional, inikah negara yang tak punya wibawa atau Presiden kita yang kurang memiliki wibawa. Negara ini layaknya seperti hiburan yang mengocok perut, seperti pewayangan tokoh-tokoh lucu kemudian ditertawakan. bahkan sampai pada masyarakat awampun seperti saya bisa menilai demikian. Sungguh malang Nasib Bangsa kedepan.

Hinaan dan celaan terhadap pemimpin kita seperti kemarin-kemarin yang menjadi perbincangan media, bahkan sampai pada proses hukum ini adalah sebuah pelanggaran yang konyol dan sangat memalukan, bukan hanya mengenai pemberitaannya akan tetapi pada figur Presiden kita, yang menjadi obyek penyelaan, di media sosial contohnya, gambar meme yang mengandung sara bertaburan, di akun fb, twinter, dan banyak lagi, itu adalah sebuah kelakuan yang sangat konyol dan sama sekali tidak dewasa dalam bersikap. Sebagai masyarakat Indonesia setuju tidak setuju Jokowi adalah presiden kita, pemimpin kita, itulah real dan kenyataanya, mau dibawa kemana bangsa kita. Semua orang memiliki catatan pribadi masing-masing dan berhak menilai siapapun, apalagi hal yang sangat prinsip yakni membawai masa depan Bangsa, namun bagaimana cara mengimplementasikannya dengan sudut pandang yang bijak dan dengan sebuah rel yang benar, bukan melakukan sebuah kekonyolan yang bisa merugikan diri sendiri. 


Pak Jokowi yang terhormat..
Sabarlah engkau dalam memimpin negeri ini, Kuatkanlah dirimu dari pengaruh orang-orang sekelilingmu yang memang kurang manusiawi, secara pribadi saya menilaimu adalah sosok yang dipaksakan, sosok yang ditokohkan, namun jangan sampai engkau jadi barang dagangan publik untuk kepuasan mereka, saya yakin bapak pasti bisa, dan bapak mampu berbuat adil. Meskipun sulit lantaran kepentingan-kepentingan mereka yang selalu saja membawai misi kelompok dan egoisme warna, dan saya berharap Bapak kuat dari tekanan-tekanan yang selama ini mengusik bapak untuk berpijak dan melakukan segenap roda pemerintahan.

Resiko apa yang akan kami timpa, dengan segala penderitaan ini, dengan segala kesengsaraan ini, negeri yang kaya raya subur makmur dan penuh dengan kedamaian ini, Negeri yang selalu menjadi perbincangan orang-orang asing yang akan merebut kekayaan Indonesia ini, kami bersamamu wahai pak Jokowi, kami menemanimu pak, kuatlah menjalaninya, teguhlah pendirianmu, dan kami selalu berdoa semoga dirimu dapat melakukan yang terbaik untuk negeri ini, yang terpenting adalah semoga engkau bisa lepas dari pengaruh-pengaruh serta tekanan-tekanan yang membuatmu selalu bimbang.

Pemerintah Belum Sensitif pada Rakyat

Berpolitik adalah kebutuhan hidup danmenjadi sarana untuk menuju sebuah kepentingan, mengartikulasikan politik sederhanya adalah sebuah taktik (proses) mencapai sebuah tujuan, itu merupakan makna umum, akan tetapi saya mengikuti arti politik pada konsepsi masyarakat saat ini, yakni politik adalah President, DPR, Bupati, Partai, Kampanye dan segala sesuatu yang mengarah pada pemerintah, saya tidak mau ribet mengartikannya, akan tetapi lebih pada analogi dan pemikiran saya pribadi yang pebuh dengan keterbatasan ilmu dan kedangkalan berfikir, akan lebih adil dan bijak apabila pembaca membaca ini secara seksama dan mencoba masuk dalam sebuah etika yang terjadi pada alur pemerintahan yang berkuasa saat ini, pada artikel ini saya akan mengarah pada sensitifitas pemerintah sebagai dasarnya, yang nantinya akan mengarah pada politik sebagai sarana dan wahana sensitif tersebut.
Pemerintah Masakini
Sensitifisme adalah kepekaan manusia.
Perasaan pada hati seseorang bukan lagi hal yang aneh, karena secara lahiriah sudah di ciptakan dan menjadi kondrat, alat indera ini tidak terlihat akan tetapi dirasakan secara dahsyat karena berkaitan dengan nurani manusia, saya berpendapat sensitif adalah sesuatu yang menyentuh lubuk paling dalam hati manusia dengan rasa yang dirasakan dalam hati itu sendiri, beberapa hal yang mesti di ingat adalah sensitif merupakan makna reltif tergantung pada menempatkan perasaan tersebut, contohnya seseorang akan sensitif apabila di singgung dengan perbuatan, bahasa, sebelumnya saya pernah menulis artikel berikut Bid'ah adalah bahasa sensitif, berarti makna ini merupakan sebuah sandaran berfikir, bergelut, yang menjadi sebuah kebiasaan seseorang terhadap sesuatu yang disandarkan. Kepekaan juga adalah buah perasaan yang miris atau tidak setuju, kontras, konflik dan lainnya, inilah perasaan dalam manusia yang dibawa sejak lahir.


Berbicara sensitif dan pemerintah
Apabila seseorang sudah menjadi kebiasaan berfikir dan selalu mengonsumsi hal-hal yang menjadi kebiasaan maka itu akan menjadi karakter yang baku, sebab dalam dunia ini merupakan candu. Saya melihat saat ini sensitif pemerintah terhadap masayarakat kurang begitu mengena, mereka (pemerintah) sensitif dengan apa yang meraka kerjakan yang berkaitan dengan politik, contohnya perebutan kursi kekuasaan bahkan yang lebih ironisnya adalah merebutkan Proyek daerah yang esensinya adalah uang dan uang, itu semua berlaku pada saat ini, sedangkan melihat kemiskinan di masyarakat mereka kurang begitu sensitif. Berbagai bukti dari banyak kasus dilapangan seumpanya seorang bupati atau DPR tatkala di beritakan miring tentang dirinya maka akan merah atau merasa risih padahal pemberitaan tersebut obyektif, sedangkan tatkala melihat kemiskinan yang sangat diperlukan tindakan mereka para pejabat mereka mengulur waktu dan sebagainya.

Baca juga artikel berikut, Ketimpangan Sosial Di cirebon, Wali Kota dan Prestasinya Masyarakat dan Laparnya

Gaya Hidup Politikus | Perwatakan Negatif

Seorang Politikus memanglah terkenal seperti halnya pada artis, mungkin sama dengan artis secara garis besarnya, akan tetapi politikus lebih cerdas dalam menganalisa lingkup sosial, dengan maksud dan tujuan serta kepentingan politiknya, sebenarnya makna politik saat ini menjadi sempit, pada hakikatnya politik adalah sebuah langkah taktis menuju pada sebuah target, arti politik saat ini cenderung pada warna, partai, kelompok, golongan, inilah kesalahan berfikir masyarakat pada umumnya, sentuhan makna konotasi yang dijabarkan secara sempit, pada artikel ini lingkup sekilas tentang politik. politikus, seorang yang selalu eksis dalam dunia pemerintahan, saya mengatakan hal demikian agar lebih mudah di pahami oleh pembaca yang budiman. Dewasa ini kacamata perkembangan politik Indonesia sedang mengalami carut marut, tidak sesuai dengan etika politik yang tujuannya adalah untuk masyarakat dan kepentingan Demokrasi bersama. mengarah pada kesenjangan Ummat manusia di Indonesia, Dengan demikian saya sedikit berfikir apakah sebenarnya yang ada, hingga muncul sebuh asumsi yang dijatuhkan pada perwatakan Politikus. adapula beberapa alalisa saya adalah sebagai berikut :


  • Gila Kehormatan, Popularitas.
  • Kejam Kepada lawan, bahkan teman, demi kepentingannya.
  • Mengutamakan Golongan Atau kelompok.
  • Memanfaatkan apasaja asalkan tujuannya tercapai.
  • Membuat Taktis untuk menjatuhkan lawan dimata publik.
  • Mengatas namakan Masyarakat Umum.
  • Pandai bergaul.
  • Gaya Hidup elite.
  • Tidak mau disalahkan juga dikalahkan.
  • Mencari kelemahan lawan.
  • Konsumsifitas yang tinggi, memanfaatkan anggaran pemerintah.
  • Senang pergi ketempat Hiburan, dengan alasan disesuaikan dengan Pola fikir yang tinggi katanya...
  • Pandai Beretorika, membuat Manuver, Opini, Pada publik.
  • Suka menghasud.
  • Tidak mau dipandang remeh.
  • Selalu ingin menjadi pahlawan ditengah masyarakat Umum.
  • Suka Mengklaim.
  • Mengutak-utik undang-undang (aturan baku).
  • Mempermainkan Musuh.
  • Resiko Tinggi, Ancaman, Dan sebagainya.
  • Penuh dengan Performa, dan ingin dihormati.
  • Suka melawan Arus.
  • Hedonis.
  • dan banyak lagi.
Demikian artikel ini saya tulis, dengan memeperhatikan berbagai macam pola gaya hidup serta tingkah para politikus, bukan bermaksud miring sebenarnya tujuan saya menulis demikian, akan tetapi pendewasaan berfikirlah membuat kotor cara berpolitik bangsa ini, Kepada rekan saudara, kerabat,, silahkan tambahlkan sedikit komentar, masukan dan kritiknya di kolom komentar dibawah ini. Sejatinya artikel ini saya buat agar mereka para politikus membuka mata dan hati secara lebar-lebar, dan ingatlah yang mereka lakukan berimbas pada masyarakat banyak yang tak mengerti apapun, Jangan anda selalu beralibi untuk kepentingan Umat jika hanya memanfaatkan ummat. Baca juga artikel berikutnya. Inilah Gaya Hidup ala Artist, Pejabat dan Dewan Suka nyawer plus-plus, jadi anggota dewan sombong.

WASPADA....!!! Komunisme gaya baru

Traumatika yang sangat berlarut bagi rakyat Indonesia, sejarah yabg tak bisa terlupakan mengenai kebengisan komunis pada masa itu, berawal dari sebuah tawaran yang mengacu pada sosialisme, bagi Islam itu sangatlah dianjurkan,  bahkan banyak mendapatkan respon positif dari berbagai tokoh pasda saat itu. Masuk pada Indonesia menjelang perang dunia pertama Komunis masuk di Indonesia dan berhasil mendoktrin banyak kalangan, dengan gaya sosialisme tersebut para pemuka Islam Indonesia sangat merespon keberadaannya seperti  HOS Cokroaminoto, Agus salim, H. Samanhudi dan banyak lagi.
Bagaimanakah Komunis saat itu..?



Sejarah hitam pekat kental pada saat itu tak bisa dibuang dan dilupakan begitu saja, kekejaman gerakan-gerakan pembantaian para komunis yang prontal tersebut sangatlah membuat marah rakyat terutama bagi Muslim Indonesia yang menjadi salah satu target pembantaian yang sangat keji dari para ulama sampai pada santri pesantren di pondok-pondok kala itu. Pada mulanya komunis ikut dalam pergerakan syariat islam, semaun, Alimin Prawirodirdjo sosok komunis yang pada saat itu berhasil duduk pada struktur kepengurusan Syariat Islam, dengan mengintai kekuatan syariat islam, Tan Malaka, Semaun, Alimin berhasil mengusai syariat islam dengan menikam dari belakang kepemimpinan dan membuat syariat islam terpecah dan terbagi dua yakni syariat islam merah-putih, dimana syariat islam merah (semaun dkk), syariat islam putih (cokroaminoto dkk), singkatnya syariat islam merah berubah menjadi PKI.

Bagaimanakah Komunis saat ini..? Komunis Gaya Baru..

Meskipun Karl Max, Lenin telah terkubur dalam-dalam di tempat kelahirannya, tetapi ruh sebuah pemikirannya masih juga dipakai dengan kedok berlambang sosialis tersebut, sakit yang begitu dalam dialami oleh para Ulama, dari pembantaian PKI di berbagai tempat di Indonesia, bukan tidak mungkin meskipun di ERA Orde Baru mengganggap bahwa masalah pencabutan Tap. No. XXV/MPRKS/1966 tentang komunisme/atheisme/Marxisme/Leninisme, tentang G.30.S/PKI tentang pengembalikan sejarah dan sebagainya. Semua itu sudah terjadi dan menjadi pelajaran bagi kita semua dalam sebuah isyarat, baik untuk umat Islam dan lainnya, Insan Pancasialin, Militer, Mahasiswa, pemuda pemudi, politikus dan banyak lagi, menjadi catatan buruk jika mengenang sejarag G.30./PKI dan jangan sampai terulang kembali.

Gerakan Komunisme marxisme tersebut ternyata ruhnya sampai saat ini masih bergentayangan, terutama kita mesti waspada pada gerakan politis dan saya tidak menyudutkan salah satu parpor, akan tetapi label sosialis semata-mata itu adalah wacana mereka, demikian terjadi beberapa hal yang saat ini gerakan Komunisme mulai muncul kembali mungkin dengan motiv lain, seperti para pelajar mahasiswa yang banyak mengkaji pemikiran markisme/leninisme dan sejenisnya, kemudian masuk pada sebuah ranah politis sebagai praktisi, sementara itu kita bisa menyaksikan bersama bahua ketekunan beragama saat ini jarang sekali seorang yang menjalankannya, bagaimanakah dengan anda, sedikit mengulas statment pada di sebuah koran Kompas edisi, 04 juni 1991 " Kita harus tetap waspada terhadap komunisme gaya baru yang merupakan perlengkapan komunisme Stalinis dan Maois yang telah ada sebelumnya. Komunisme gaya baru atau disebut juga Sosialisme demokratis, kedengarannya humanis, Tetapi didalamnya tetap ajaran Komunisme dengan segala teori klasiknya" (Try Sutrisno).

Dari berbagai macam keadaan saat ini sangat progress bagi para komunis untuk masuk dan merusak tatanan sebuah pemikiran dengan embel-embel sosialis, dengan kondisi Indonesia yang lumpuh dari banyak hal, ekonomi, pendidikan dan lainnya, komunisme akan masuk dari konteks tersebut, mungkin dari muatan politis sebagai pelaku kebijakan, sedikitnya timbul sebuah ketidak percayaan seseorang pada agama secara tingkah, Kembali pada sebuah pemikiran Marxisme dalam bukunya "Agama adalah hanya bagaikan bayangan matahari yang bergerak mengitari orang sampai ia mulai mengitari diri sendiri..." (on the Cristism of the Hegalian Philosophy of righf, dalam bahasa komunisme, A.Z. Abidin 1982:247). jika mengulas kutipan tersebut, marxisme menganggap agama merupakan keluh kesah makhluk tertindas, hati nurani dari dunia yang berhenti, tetap sebagai mana ia dalam jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. 

Landasan Demokrasi saat ini adalah ajang bagi embriologi komunis untuk andil dengan jargon ataupun bendera yang lain, keadaan lemiskinan masyarakat yang sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah memberikan kesempatan yang sangat strategis bagi para komunisme untuk menjadi pahlawan mereka dan ujung-ujungnya akan merusak tatanan pancasila, berbagai macam motiv yang dilakukan komunisme dahulu menjadi sebuah pelajaran bagi kita tinggal bagaimanakah korelasi pergerakan tersebut dalam era saat ini, motiv gaya baru komunis terkesan sosial dan pasti diterima oleh masyarakat, dengan iming-iming surga dan kedamian tatkala negara sedang goncang seperti pada saat ini. untuk itu sedikitnya artikel ini bisa menjadi sebuah bubuhan dan bersama mengingat gaya komunisme dahulu dan saat ini secara konteks. contohnya pada jaron, atribut, pemikiran, dan sebagainya.

Koruptor dihukum mati saja atau dimasa

Banyak para sosialis dari berbagai lapisan menyatakan demikian sebab dengan gemasnya melihat angka korupsi di negeri ini tak bisa di hilangkan bahkan makin bertambah banyak, meskipun ada berbagai macam lembaga pemerintah yang membentuk penggiat seperti KPK tetapi masih saja banyak yang melakukan koruptor, apakah hukuman yang menimpa kurang begitu kuat hingga masih banyak yang melakukan praktek korupsi dengan cara yang lebih unik, yang jelas apapun cara dan bagaimanapun polanya koruptor tetaplah koruptor, masyarakat yang melihat pemberitaan para koruptor seolah-olah sudah tak tutup telinga dan tutup mata bahkan tak jarang yang beralasan itu adalah sebuah rekayasa serta hanya sekedar hura-hura dari pekerjaan pemerintah saja.


Dengan tidak melihat norma serta nilai sosial para pejabat yang melakukan praktek korupsi seolah-olah mereka tidak malu dan merasa tidak takut dengan apa yang dia kerjakan untuk berbuat korupsi, hal tersebut membuktikan bahua hukuman bagi para koruptor di indonesia tidak menimbulkan efek jera dibuktikan tingkah para pejabat korup yang masih saja santai menikmati kemewahan mereka dari hasil korup tersebut, keraguan bagi bagi masyarakat sangatlah kental terhadap hukum bago mereka para pejabat, meskipun dipublis secara besar-besaran efek moral tidak begitu di dipentingkan bagi mereka.

Banyak hal yang harus dijadikan pembelajaran bagi rakyat adalah uang yang mereka makan merupakan uang bangsa agar masyrakat bersama pemerintah bisa bersama-sama memberantas serta mengawasi praktek para korupsi tersebut yang sangat merugikan banyak pihak belum lagi kepada kewibawaan negara yang mereka jadikan permainan seolah-olah selesai dengan cara berpidato yang elegen yang seolah tidak mengarah pada mereka sendiri bahua mereka adalah maling yang kakap, inilah kebobrokan para pelaku dosa yang mengatasnamakan demokrasi, Jika saja rakyat merasa memiliki bahua itu uang mereka maka hukuman para koruptor ada di tangan rakyat mungkin lebih kejam dari dimutilasi atau di masa dibakar dan sebagainya secara mengenaskan. Artikel ini tidak begitu penting hanya bersifat sindiran dan sebagai pengingat saja untuk mereka agar berbenah diri dari jabatannya dan kiranya sadar bahua banyak yang tak makan sebab ulahnya tersebut hal ini mesti dilakukan aksi sosial agar memilki efek jera kepada mereka jika anda berfikir bagaimanakah hukuman koruptor dan maling motor yang sering terjadi di negara kita.

Hukuman Koruptor dan Maling Motor

Ini menjadi pertanyaan banyak masyarakat kenapa hukuman seorang koruptor berbeda dengan hukuman seorang maling motor atau ayam bahkan maling sandal, sebelumnya apa itu koruptor seorang yang memegang jabatan atau memilki kepentingan serta kebijakan dimana dia memilki kewenangan yang terstruktur dan memiliki kewengan untuk mengelolah menejment keuangan baik bersifat langsung maupun tidak langsung seperti pejabat pemerintah baik eksekutif, lwgislatif, yudikatif, kepala instansi lembaga baik suasta ataupun negeri, kepala, staf, bidang, dan lain sebagainya semuanya memiliki peran langsung dan tidak langsung, maksud dari langsung adalah dimana seseorangt ersebut memiki kewenangan untuk membelanjakan, menggunakan, seperti bendahara, biro keuangan, danlainya, dan tidak langsung adalah mereka yang memiliki kewengan cengan menggunakan kebijakan contohnya seorang pejabat atau dewan yang memilki anggaran lalu di selipkan beberapa nomilnal sebagai vee (jatah) untuk dirinya sendiri. Sedangkan Maling Motor, ayam, sandal adalah Seseorang atau kelompok yang bukan pejabat (dalam hal ini rakyat) berbuat hal negatif dengan tujuan ekonomi (latar belakang) dan melalakukan motif tersebut dengan alasan keterpaksaan kemuadian menjadi kebiasaan.

Keduanya sama secara prilaku yakni merugikan orang lain dan mealawan hukum, koruptor juga bisa disebut maling atau lebih dari itu, bisa perampok, maling, gento, gondoruwo, codet, tikus munafik dan sebagainya secara garis besar antara koruptor dan maling sama tetapi secara lingkup itu berbeda, katakanlah koruptor adalah maling intelektual atau berdasi dengan cara menipu atau menggunakan kebijakannya sedangkan maling motor hanya berprilaku nekad ataupun kebalikannya.

Kenapa Koruptor tidak diklaim sebagai penyakit masyarakat (meresahkan Masyarakat) resiko koruptorpun lebih rendah ketimbang maling motor, ini adalah pertanyaan yang kerap kali masyarakat bingung yang menjadikan masyarakat tak lagi percaya dengan hukum khususnya di Negeri kita, bahkan dengan ekstrem ada juga masyarakat yang mengatakan koruptor harus dihukum mati atau juga di masa ramai-ramai sepetihalnya maling motor, ayam. terlintas dari sebuah lagu punk dari kelompok marginal mereka membuat lagu dengan lirik menyebutkan " maling-maling kecil dihakimi... maling-maling besar dilindungi.." benarkah demikian, ini bisa jadi seperti itu kenapa demikian..? sebab masyarakat melihat angka dari bentuk nominal dan melihat sosok tersebut hingga banyak yang bertanya kok hukuman koruptor dan maling motor berbeda, baca juga ini pejabat dan dewan suka nyawer plus-plus.

andai aku presiden | syair edan

Telah aku lalui untu berusaha menjadi kaya
aku lupa akan apa yang aku jalani itu
dunia yang parah membuatku ikut terpuruk menjadi lumpur keparahan
Busuknya udara berasal dari sumber angin senayan

menjadi semua terpikat untuk hancurkan dinasti kelompok berkepentingan
ada bumi tak diladenii, ada api seraya semua mendekati
bermain catur di bawah terik matahari
Jangan mebeli bumi jika tak pantas menghiasnya

Andai aku presiden akan ku buat bencana bagi yang ber jaz dan dasi
kan kubuat mereka semakin kandas dalam etika yang tak nyaman
semua bekal untuk bumi kan kupertaruhkan 
presiden jabatku adalah bumi seisiku

Jika ada yang mengacamku aku akan melapornya
aku tak punya kelompok teduh tetapi aku kuat dengan hayalku
jangan berbicara apa itu soal aturan rusuh
jangan bicara apa yang bumi tidak mengerti
setau aku bumi adalah konkrit dari nilai estetika

Mohon berikan aku baju dan jas serta dasi walau sesaat
semuanya akan kunaungi dengan berteduh karena bumiku adalah utamaku
jas dan dasi yang kau kenakan hanyalah untuk hiasi bisikan kotormu
jikalau kau berkenan berikan itu kau akan ku hancurkan 

Pejabat dan dewan doyan nyawer plus-plus

Sudah menjadi kebiasaan bahkan budaya bagi mereka para opejabat kotor yang suka dalam menari hiburan malam dengan alasan disesuaikan dengan tingkat intelektualnya padahal ini sama sekali ga nyambung, jika memang butuh mencairkan ketegangan otak dan otot syaraf bukan dengan cara demikian apalagi dengan mampir di tempat hiburan malam hanya menghambur-hamburkan uang hasil korupsi, tempat speprti itu sangat kerap dengan beberapa pejabat anggota dewan bahkan aparatur negara yang suka hal itu bisa-bisa lama kelamaan negara jadi tempat lokalisasi yang ga jelas.

pejabat raja sawer

Seperti pada bar tempat minum yang disela dengan music house dangdut dan sebaginya berjalan dengan irama penuh dengan erotisitas penampilan sosok biduan yang gaya jogedannya mengundang gairah kedewasaan, ditambah dengan minuman beralkohol serta menyawer biduan tersebut, anehnya tatkala dikantor didatangi orang-orang yang memang memerlukan bantuan untuk kepentingan umum mereka mengatakan anggaran belum turun semua dinisbatkan pada anggaran pernahkah mereka berfikir para pedagang nekad meminjam dana pada rentenir atau lembaga butuh bantuan pemerintahh seperti yayasan, nah kalau itu anggaran dari mana yang untuk nyawer? apakah anggara pemerintah juga. Dana yang dibuat untuk bancakan para korup membuat masyarakat semakin menderita, yang lebih herannya lagi mereka tak ada malunya untuk melakukan demikian.

Akhir-akhir ini banyak berita tentang kantor dewan atau orang-orang pemerintah yang diberikan fasilitas karaoke, sebenarnya tidak menyalahi aturan tetapi untuk pendidikan bagi masyarakat melihat sosok pemimpin seperti demikian sangatlah disayangkan. Mungkin keuntungannya adalah mengirit anggaran dari pada karaoke dan nyawer di tempat family karoke atau karaoke plu-plus, ini mesti diperhitungkan, tingkah seperti itu sebaiknya jangan dijadikan kebiasaan sebab masyarakat akan menilai terlebih masalah korupsi bisakah untuk membuat bentuk usaha lain atau usaha online bila perlu yang mencari duit di internet dengan halal ketimbang korupsi dan hanya untuk memuaskan nafsu belaka.

Jadi Anggota Dewan Sombong

Banyak asumsi masyarakat yang mengatakan demikian dengan bahasa yang sangat menyengat "baru jadi dewan sombong" menjadi obyek perbincangan khalayak ramai di bibir sebagian masyarakat, semuanya ada keterpautan dengan logika yang labil dalam diri sosial masyarakat terutama yang ada di wilayah kampung, jika kita lihat di komunitas para pejabat terutama di wilayah perkotaan mereka cenderung hidup individualistik satu dan yang lainnya, ini kewajaran yang memang demikian adanya, kesibukan serta tanggung jawab menjadi seorang pemimpin diperlukan keseriusan yang harus dijaga dengan segala bentuk dan tingkah apapun agar performa dan kewibawaan tetap berada dalam diri seorang pemimpin agar tetap bisa melaksanakan tanggung jawab sosialnya seperti keinginan masyarakat pemimpin hari ini bekerjalah.

Disaat mereka berkumpul berkerumun dengan warga sering sekali dengan ringannya mengatakan "nanti ini saya bantu" kenyataan mereka adalah para pelaku anggaran bukan pelaku kebijakan sosial (saat ini) atau pelaku kebijakan politik, setelah bersentuhan dengan masyarakat kemudian tidak terbukti menjadikan kontras sebuah element pemikiran yang  tidak seirama, hingga menghasilkan faktor kewibawaan yang menurun. Ini bisa dikatakan kesalahan berfikir (Intellectual cul-de-sac) dampak yang sangat mempengaruhi tahapan sosial, baca juga ini

Terkadang para pejabat atau dewan sering mematikan sesuatu yang abstrak menjadi kongkrit dan terjebak dengan situasi (Misplaced) atau salah letak, dalam system pemikiran dapat disimpulkan bahua kesalahan berfikir membuat ajakan pemikiran yang contradiktif dengan obyek, seperti pada saat pembuktian dari ucapan seorang pejabat atau dewan, mereka seolah-olah memiliki peranan bahua dunia sudah ada dalam genggaman tangannya, kesadaran dalam beragument tidak diterapkan hingga datang konflik sosial yang lebih kepada saling berdiam adapula dalam konteks bertemu antara obyek yang mengatakan pejabat atau dewan itu sombong semuanya berada pada posisi Argument ad Verecundiam atau beragument menggunakan otoritas, walaupun tidak relevan dan ambigu, seperti artikel berikut jadi PNS sombong.

Elite Politik bikin negara bobrok

Sebagai negarawan yang kuat dan priship bukan menjadi hal yang remah karena banyak para elite yang mengaku sebagai negarawan tetapi ujungnya adalah kritik yang menyudutkan kemudian tidak bertanggungn jawab dalam arti kata bukan kritik membangun, sebagai masyarakat yang dominan pada bagaimanakah agar ekonominya terpenuhi dan tidak kelaparan terutama untuk biaya makan dan ongkos anaknya sekolah besok harus ada, tak mengerti apa itu negarawan, apa itu politik, apa itu partai, apalagi mengkritik atau mencari proyek di pemerintahan, ini hal yang perlu di cermati. Maksudnya seberapapun para elit (sok negarawan) mengkritik atas nama rakyat, mereka (rakyat) tidak mengerti apa yang diomongkan para elit yang ada hanya permusuhan diantara mereka para pejanbat dan para elit politik.

Pekerjaan yang real adalah bagaimana rakyat makmur dan mengembangkan pertumbuhan ekonomi agar masyarakat tak buta akan demikian hiruk pikuknya negara ini, kendati demikian masyarakat sanagt antusias dalam berdemokrsi seperti pesta politik kemarin berdasarkan angka peningkatan pemilih meningkat sampai 87% ini sangat menunjukkan kepedulian mereka terhadapa pesta demokrasi bukan kepedulian celoteh para elit politik yang terkesan menghasud mereka untuk tidak menyukai obyek yang dituju.

Realita masyarakat bawah yang serta merta melakukan hal-hal yang ektreem dan dilakukan beberapa kelompok atau individual seperti kriminal, perampokan, pembunuhan, secara umum sangat beralasan kebanyakan adalah faktor ekonomi serta kecemburuan sosial, sekarang bagaimana mereka mendapatkan hasutan dari para elit yang terus menggerogoti mereka dengan bahasa intelektual yang menipu, serta manuver poolitik, serasa hal ini sangat menyakitkan mereka (masyarakat) yang sedang asyik-asyiknya mencari nafkah timbul beberapa bahasa yang mereka tidak tau kebenarannya bahua salah satu pejabat korupsi, tidak baik, tidak benar ini itu dan sebagainya, itu bukan jalan fikir mereka dan bukan porsi merek auntuk mendengarkan berita demikian.

Pemerintah lebih suka akan Prestasinya Masyarakat dan Laparnya mereka tidak mendengar sama sekali bahkan menutup mata dan telinga mereka, sangat disayangkan negara ini sejatinya sangat kaya dan banyak orang yang mengerti akan hal ini, tetapai kekayaan tidak sama sekali dirasakan oleh mereka tetapi dirasakan oleh  para elit dan pejabat yang merasa negara adalah miliknya seperti permainan pajak, dan lain-lain, rakyat yang merasa memiliki kekayaan dirampas oleh mereka para cucunguk negeri ini. tahukan mereka bahua negra ini bobrok karen ulah para pejabatnya, tau kah mereka negara ini miskin karena dirampok para pejabatnya, tahukah mereka negara ini rusak dan tak stabil karena pemikirannya, dan yang lebih ektreem mereka membuat masyarakat tidak percaya pada negaranya sendiri seperti masalah kelompok yang di nomersatukan yakni untuk melemahkan kelom[ok lain dimasyarakat. 

Maksud artikel ini adala bagaimana kiranya masyarakat memiliki jati dirinya sebagai orang indonesia yang memiliki rasa tanggung jawab dan lebuh baik mendengarkan mereka yakni sekelilingnya ketimbang mendengarkan hal-hal yang berkaitan dengan pelemahan kewibawaan permirintah karena pemerintah dan dan rakyat adalah satu.

Wali Kota dan Prestasinya Masyarakat dan Laparnya

Untuk menjadi kota yang beridentitas bukan hanya klaim dengan predikat apalagi sekedar Piagam pengharga Kalpataru saja, semuanya perlu diperhatikan demi kelangsungan prestasi yang hendak dipertahankan bahkan lebih maju, hal itu tidak sekonyong-konyong dapat penghargaan kemudian tidak diindahkan. Melihat perkembangan kemajuan di Negara kita banyak sekali keadaan yang harus kita lestarikan keadaan itu berupa Budaya, Kesenian, dan sebagainya yang berkaitan Identitas daerah. semuanya itu perlu yang namanya kepedulian untuk saling melestarikan budaya kita yang terkenal kaya akan beraneka ragam hingga tiap-tiap wilayahpun memiliki keunikan dan perbedaan atas kebudayaan yang dimiliki.

Perkembangan zaman dan pesatnya pembangunan didaerah terutama dijawa yang padat penduduk itu adalah simbol kemakmuran dari apa yang kita inginkan dalam masterplant pembangunan meskipun ada beberapa hal yang tersendat dalam menempuh keangka maksimal itu hanya sistem dan pengawasan yang kurang begitu kuat dan ketat. terjadinnya beberapa faktor yang mempengaruhi pembangunan itu sebagian besar ada pada tingkatan Korupsi yang semakin giat sampai pada daerah.

Sejatinya pertumbuhan dan perkembanban selalu maju kendati demikian banyak sekali pengangguran yang masih saja merasakan keterpurukan dalam menjalani kehidupan meskipun itu ada dalam tahapan negara yang sedang berkembang. kembali kepada pembangunan daerah yang terkesan mengejar identitas pemerintah lalai dalam membuka lebar lapangan pekerjaan yang luas seperti presiden terpilih yang menggagaskan ekonomi kreatifnya namun apakah seirus semog asaja benar adanya kepada masyarakat. Belum lagi proyek-proyek yang disitu banyak terjadi laten dan praktek korupsi para pejabat semakin jauh karena pribadinya terbelenggu masalah demikian, hingga semkian jauh dan lepas dari tanggung jawab moral yang seharusnya lebih awal dipekerjakan oleh para pemerintah dan elit tersebut.

Secara sisitem pembangunann daerah sepertinya Negara kita tidak diragukan lagi dalam arti kecil sistem perencanaan setelah acktion dari sistem itulah kurangnya keterlibatan orang-orang dalam menggali informasi tentang itu sehingga selalu ada chaos dalam konteks teknis dilapangan. untuk tetap menjaga kestabilan sistem adakalanya perlu pengawasan dari masayarakat LSM sebagai Kontrol Sosial agar mereka (lsm) bisa mendapatkan kesenjagan dan bisa mengawasi secara peraturan dengan tindakan yang prisedural. Semuanya adalah Identitas kembali kepada kemanfaatan dari identitas itu , bagaimankah dalam melestarikan dan apakah ada keseimbangan dengan kondisional masyarakatnya.sedikit kaisan kalimat saya "Karena dari pada beli keramik masih mending beli Ubin dari pada tidak makan atau mati keparan karena uang makan dibelikan keramik yang tujuannya adalah agar identitasa rumah menjadi sedikit mewah"... Maksudnya baiknya pemerintah lebih mementingkan lapangan pekerjaan untuk rakyat dari pada yang lain.

Jokowi dan Revolusi Mental bukan Revormasi 98


Revolusi mental jalan menuju kesenjangan sosial sedikit mencermati jargon yang di gembor-gemborkan oleh Ir. Jokowidodo sebenarnya dalam benak saya mempertanyakan hal demikian revolusi mental prinshipnya yakni melakukan 'perubahan sosial, kepribadian inovatif secara besar-besaran dimedia masa atau dunia pendidikan sehingga muncul kepribadian yang mmmberikan keterbukaan dan kreativitas'. Hal ini terjadi paska tahun 1998 para akrivis dari kalangan akademik menyuarakan reformasi, pada hakikatnya revolusi mental menurut pandangan saya adalah kembali kepada reformasi bukan membentuk karakter paradigma baru.

mengulas sedikit masa 1998 yakni terjadinya perubahan sosial yang drastis dan menumpas era orde baru disitu sejarah tercatat bahua indonesia mengalami perubahan sosial dengan perjuangan segala element sosial secara pararel dan kebersamaan dan dilakuKan secara serentak oleh masyarakat indonesia dari mulai para aktifis, sosialis, akademis, sampai pada buruh tani perubahan revormasi yang nyata dan realistis serta terasa sampai pada saat ini hingga merubah paradigma masyarakat menjadi paradigma baru dan membentuk negara yang demokratis, revolusi atau reforamasi disini penafsiran ada dalam benak kita masing-masing.

Kenyataan pada saat sekarang jokowi membuat suatu klaim bahasa atau mitos sosial yang menurut saya kurang begitu buming dan kurang bereaksi pada isu sosial seolah olah hanya teoritis saja lain dengan reformasi pada 98 yang mengubah lapisan sosial dan paradigma baru, tahun 2014 seperti sekarang ini sangat memerlukan gerakan yang bereaksi secara nasional untuk perubahan mencermati keblakang isu sosial bentuk apapun kurang begitu pensikapan beda pada saat penggulingan rezim orde baru.

Memprotesi keadaan sosial yang banyak para kritikus dari berbagai kalangan disana kurang signifikan karena saat ini masyarakat kita hanya jadi penonton setia atau sibuk dengan urusannya masing-masing bukan kearah intelektual perubahan, seyogyanya hal ini musti kita saring secara bersih atas pengaruh sosial hingga mengakibatkan kurang keberlakuan dan wibawa suatu peran pemerintah, semua hanya terjadi pada awal opini dan tidak ada ikatan erat yang berkomitment untuk merubah sistem sosial.

berbagai konsumsi publik banyak mengarah pada penggembosan wibawa pemerintah, seperti kasus korupsi, opini oposisi antar pemimpin, pemberitaan antar kubu, dan sebagainya, pemberitaan yang selalu mengulas hal hal penggembosan di element pemerintahan, hingga terajadi konsumsi dan opini yang semakin menjauhkan kepercayaan masyarakat pada penerintah. Pelaku opini publik seperti media elektronik baik tv radio, media cetak koran, majalah sampai pada media online.

Dimana posisi kita sekarang sedangkan sejarah hanya bekas dan simulasi belaka adakah sosok pengayom yang menguataan element sosial dan siapakah..?. Segala hal dilakukan untuk bentuk penceritraan opini tapi hal lain terus menggembosi, kemapanan pola pikir kian mengurang dan elektabelitas pemerintah semakin punah, dan masyarakatpun berkata pada pemerintah, "GUE SIAPA LHO"...

Ekonomi Kreatif Jokowi


Ekonomi kreatif yang digagaskan oleh Presiden terpilih kita Ir. H. Jokowidodo yang akrab dipanggil Jokowi, dalam debat capres cawapres yang ditayangkan di media elektronik stasiun televisi jokowi mengungkapkan tentang ekonomi kreatif dalam hal ini apabila serius diterapkan oleh pemerintah kita dengan demikian bisa mengurangi angkakemiskinan dengan membentuk ekonomi kreatif, sebenarnya program seperti ini sudah ada oleh pemerintah mungkin hanya beda bahasa saja seperti membuat UKM ditingkat masyarakat, sampai UKM di lingkungan sekolah, kemudian KUB (kelompok usaha bersama) dan sebagainya.

Dengan bahasa baru dan istilah ekonomi kreatif saya beranggapan hal ini sangat mengena di masyarakat khususnya para pemuda karena bahasa kreatif saya rasa akrab diterapkan oleh pemuda, saya beri satu contoh, orang tua sering menyerukan pada pemuda atau anak-anaknya "jadi pemuda harus kreatif" sampai pada bahasa puisi, pada bahasa jargon, klaim produk atau temuan sesuatu seperti pada seni orang banyak sekali menamainya dengan nama kreatif seperti desing atau apapun contohnya "rojay creativ"hmmm.

membutuhkan langkah langkah yang propesional untuk membentuk hal demikian, dengan cara membuat kelompok kelompok kecil yang terlingkup legal formal oleh pemerintah yang berkepentingan, seperti kelompok bengkel, kelompok pedagang, atau apapun karena bersifat wadah dalam satu komunitas, dan pemerintah memberikan sedikit bantuan dana untuk kegiatan usaha kelompok serta pembinaan kewirausahaan dengan administratif, jika kita amati ini tidak asing hanya penerapan dan sistem yang tidak tepat sasaran.

semoga hal ini menjadi acuan bagi kita agar bisa mengimbangi program pemerintah yakni ekonomi kreatif dan menjadikan suatu pijakan kebersamaan untuk bersatu memajukan Indonesia yang sejahtera. Dan semoga pemerintah berkomitment atas apa yang menjadi tujuannya.

Jejering Sosial Sarana Politik

Jejaring sosial sarana politik yang dewasa ini kerap dilakukan seperti Facebook, Twiter dan sebagainya, hal ini merupakan langkah praktis dan sangat gampang untuk dilakukan untuk bersosialisasi atau berkampanye bahkan banyak pembiaran hukum yang tidak menyentuhnya seperti kampanye hitam, kampannye negativ, kampanye praktis dan lain sebagainya salah satu contoh banyak beredar photo editan para kandidat politik yang diedit dengan berbagai macam arti bahkan bentuk penghinaan kemudian banyak pula para pengguna membahasakan sesuatu hal yang bersifat negativ kemudian dikomentari.

Beramai-ramai menyuarakan seolah-olah disitu tidak ada yang mengawasi secara hukum, bahasa yang bersifat fiktiv, fitnah, dengan tujuan mengurangi kredibelitas kadidat agar tidak memilih calon yang tidak disukainya dan sebaliknya banyak bahasa yang ditonjolkan serta menyuarakan dengan membesar-besarkan pretasi calonnya dengan tujuan untuk mengikutinya, sampai kepada angkaintervensi dan terjadi perdebatan yang seru.

Semua yang dilakukan adalah bentuk kepedulian apapun hasilnya tidak memandang negatif ataupun positifnya hal tersebut dan tidak memikirkan efek. Semua beraspirasi dengan penuh kreatifitas dengan kemampuan masing-masing hingga banyak yang tak sadar bahua hal itu menuebabkan banyak masalah, karena dengan entengny memosting dan nengespost pemberitaan.

Bagaimana dan dimana posisi kita serta siapa yang bisa mengurainya atau menjadi penengah dalam hal ini..?
Kebebasan berbuat dan berfikir adalah faktor biologis masyarakat kita yang sering terpancing keadaan dan sering terbawa karena sudah banyak konsumsi publik yang kurang berdasar dan sering diadopsi pula sebagai perbendaharaan prinsip.
Keberlakuan hukum kurang begitu masuk pada ranah ini karena hukum akan berlaku apabila ada barang bukti dan pelapor yang jelas, namun dalam jejaring sosial yang kita pahami adalah dunia maya dunia yang hambar untuk mengekspresikan maksud.

Berkaca pada Negeri kita yang kaya akan segalanya dan gampang dijadikan ajang kontroversi publik, terkemas dalam wilayah proganda dalam apresiasi, secara prinship dasar kita semua butuh informasi dan sangat gampang dewasa ini dalam mencari sumbernya salah satuny adalah jejaring sosial.

Kita nisbatkan pada politik, disaat momentum politik ramai jejaring sosil ini dikunjungi sebagai alat mencari informasi dan mentransfortasikan kepentingannya, karena hakikat politik adalah kepentingan bukan kemengan, kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan rakyat, kemengan yang dimaksud adalah kemengan kelompok yang tidak menggunkan sosialitasnya untuk menghormati yang kalah. Keberadaan kemajuan sarana informasi membuat kita membuka mata agar ikut andil dalam berpolitik dan bisa bersentuhan langsung dengan para eksekutor politik dewasa ini. Tinggal bagaimana kita mengolahnya dan bagaimana sikap kita untuk lebih dewasa dalam menggunakan jejaring sosial yang ramai dan dijadikan ajang politik yang benar-benar mendidik. (Roy)

Pencederaan Demokrasi Pada Pemilu

Hal yang sangat memperihatinkan bagi saya pribadi mengenai sikap politik negri kita tercinta ini. Dewasa ini hajat demokrasi rakyat Indonesia telah dilaksanakan dari mulai pemilihan kepaladdaerah, Legislatif, sampai pada pemilihan Presiden. Namun semua hanya simulasi politik belaka saya mencermati beberapa kejadian baik disekitar maupun di berbagai daerah atau di media elektronik dan koran saya nilai hanya beberapa orang yang menikmati indahnya demokrasi yang cersas dan damai selebihnya adalah bentuk ceremonial belaka karena sudah mencampur adukkan kepentingan pribadi dan golongan.

Terlepas saya puas atau tidak jija jujur saya tidak puas dengan semua ini hal ini hanya sikap pemborosan pemerintah dalam mengeluarkan anggaran yang sesemikian besar siapa yang mampu membayar semua itu, sedangkan banyak pihak yang tak bertanggung jawab atas perilakunya dengan menjalankan mobilitas politik dengan cara-cara kotor dan efek semua itu adalah efek negatif yang mengena pada masyarakat dan pemula dalam hal ini anak muda. Mereka sudah tidak lagi mempercayao pemerintah dan tidak lagi peduli norma yang idealisnya harus dipertaruhjan.

Mengenai kejadian klaimisasi suara Pilpres yang menguak di media yang berdampak pada. Masyarakat kemudian melonjak pada isu internasional apakah kita tidak malu blmelakukan perbuatan seperti itu, mohon kepada yang berkepentingan diharapalkan menjaga kedaulatan Negeri ini karena kalian-kalian yang terhirmatlah kelaj cermin negara kita mohon jangan buat resah masyarakat dan jangan cederai demokrasi ini. Kita dalam sudut pandang hormat kepada NKRI kita. Kita masih menilai positif dan suci negeri kita mohon jangan kotori kesucian ini, anda yang pandai bersuara dan membuat polemik sosial setidaknya lebih tau apa yang akan terjadi di kemudian hari bukan mencerca satu sama lain yang berimbas pada kepentingan umum. Jangan kalian memaksa kita untuk berbuat yang tak ada dasar hukum positifnya itu karena kalianlah wujud pemimpin yang kita panuti dalam suana suka atau tidak. Memilih atau tidaknya.

Saya sikecil berbuat kecil hanya mampu mengimbangi masalah kecil pula yang mana masalah kecil ini adalah kalianlah panhkal akar masalahnya..
Sedikit tulisanku untuk indonesiaku aku cinta.....!!!!!!